Jum'at, 19 April 2019
Home/ Berita/ MPM Muhammadiyah Hadirkan Ruh Gerakan Pemberdayaan

MPM Muhammadiyah Hadirkan Ruh Gerakan Pemberdayaan

Malang - Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menggelar Seminar dan Lokakarya Nasional bertema “Membumikan Tauhid Sosial, Menuju Reformasi Sosial” di Aula BAU Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), pada Jumat-Sabtu (19-20/12).

Kegiatan ini beritikad mengajak Muhammadiyah agar tak terjebak pada rutinitas di bidang pendidikan dan kesehatan, namun juga memiliki kepedulian khusus pada masyarakat yang terpinggirkan.

Ketua MPM PP Muhammadiyah, Said Tuhuleley menilai, hal tersebut selaras dengan spirit Ahmad Dahlan ketika mendirikan organisasi ini, yaitu menjadikan Muhammadiyah sebagai gerakan yang manfaatnya bisa dirasakan semua kalangan. “Muhammadiyah For All,” tandasnya.

Said percaya, kesadaran tauhid semestinya dapat menggerakkan Muhammadiyah dalam memberdayakan masyarakat. Melalui MPM, lanjutnya, Muhammadiyah intens melakukan pendampingan bagi para petani, peternak, nelayan, para buruh, pedagang asongan, abang becak, pengumpul barang rongsokan, pengrajin industri kecil skala rumah tangga, kelompok disabilitas, dan kelompok pinggiran lainnya.

 “Dalam konteks ini kami punya jargon, selama rakyat masih menderita, tidak ada kata istirahat,” tegasnya.

Kehadiran MPM di Muhammadiyah memang diakui sebagai gerakan yang unik. Rektor UMM, Muhadjir Effendy bahkan menyebutnya sebagai gerakan yang non-mainstream. “Di Muhammadiyah, gerakan yang mainstream itu di bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial, karena di tiga wilayah itu Muhammadiyah memilik basis yang kokoh dan jelas.” Katanya.

Lebih lanjut Muhadjir menilai gerakan MPM ibarat siluman, karena tidak punya basis yang jelas tapi hasilnya nyata. “Gerakannya laten tapi hasilnya manifes,” ujarnya.

Gerakan ini disebut Muhadjir sebagai ciri dari gerakan awal Muhammadiyah. Saat Muhammadiyah belum memiliki sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan, embrio gerakannya serupa dengan apa yang dilakukan MPM ini. Diakuinya, gerakan seperti ini memang tidak sepopuler yang dilakukan di wilayah pendidikan maupun kesehatan, namun hal-hal tersebut harus dihargai.

Sayangnya, kata Muhadjir, di Muhammadiyah tradisi menghargai orang lain sangat kurang. “Karena itu saat ini UMM tengah memulai gerakan besar-besaran untuk menghargai orang-orang yang sangat berjasa bagi masyarakat. Kehadiran mereka sangat terasa sebagai role model di tengah masyarakat yang mulai kehilangan panutan ini,” tuturnya. (zul/han) (dzar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *