Kamis, 26 November 2020
Home/ Berita/ Menjadi Pahlawan Indonesia

Menjadi Pahlawan Indonesia

Oleh: Haedar Nashir (Ketua Umum PP Muhammadiyah)

 

Pertempuran rakyat Surabaya 10 November 1945 sangat heroik hingga dijadikan Hari Pahlawan. Dalam telaah sejarah Ben Anderson, peran Bung Tomo dan kaum muda nasionalis revolusioner sangat sentral. Melalui Radio Revolusioner dengan gema Allahu Akbar, Bung Tomo dan kawan-kawan sejak 9 September 1945 membakar semangat jihad dan perlawanan rakyat secara meluas.

Tahun 1977, waktu itu saya masih SMAN X di Bandung. Sempat menghadiri pidato politik Bung Tomo. Rasa ingin tahu sosok yang heroik itu mengalahkan rasa cemas. Maklum aparat keamanan saat itu sangat represif pada kritik dan aksi massa. Kala itu lagi bangkit pergerakan mahasiswa melawan Orde Baru yang makin otoriter dan mencengkeram kebebasan rakyat. Bung Tomo didaulat mahasiswa Bandung membakar semangat mereka. Acara aksi malam hari. Meski mayoritas yang hadir massa mahasiswa, kami aktivis pelajar Bandung juga ikut merasakan getaran Sang Aktor Utama Pertempuran Surabaya itu. Sayang sekali dia berorasi singkat, karena segera dicekal aparat keamanan.

Bung Tomo dan para pejuang Indonesia masa silam tinggi jiwa kepahlawanannya. Kaum muda dibangkitkan semangat cinta tanah air dari segala bentuk kesewenangan, meski penjajah sudah lama hengkang dari bumi Indonesia. Dia sejak tahun 1970an menjadi tokoh kritis terhadap pemerintah. Kami saat itu hadir agak khawatir, maklum masih pelajar, belum tahu kerasnya dunia politik. Tahun 1978, Bung Tomo ditahan rezim Orba. Setahun kemudian dilepaskan dari tahanan. Beliau wafat tahun 1981, ketika menunaikan ibadah haji di kala wukuf. Tahun 2007 Soetomo atau Bung Tomo diangkat menjadi Pahlawan Nasional karena jasa perjuangannya yang bersejarah.

Kini, ketika memperingati Hari Pahlawan, segenap elite dan warga bangsa, khusus kaum muda jadilah insan Indonesia berjiwa pahlawan. Jangan sekadar memperingati ritual. Apalagi acuh tak acuh dengan sejarah para pendiri dan pejuang bangsa. Jangan menjadi anak bangsa yang buta sejarah. Dalam jargon Bung Karno ketika Pidato 17 Agustus 1966, 'Jas Merah': Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah.

Pahlawan itu mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas lainnya. Menjaga dan menegakkan kedaulatan Indonesia dari segala bentuk perongrongan dan eksploitasi. Membela nasib rakyat di atas segalanya. Menegakkan kebenaran, keadilan, dan martabat hidup bangsa dan negara. Berani berkorban demi Indonesia. Bukan demi diri, kroni, dan golongan sendiri. Apalagi demi materi dan kursi dengan mengorbankan harga diri dan Ibu Pertiwi.

Jiwa, sikap, dan tindakan kepahlawanan yang autentik itulah yang kini mulai luntur dan mengalami erosi di negeri ini. Keteladanan pahlawan menjadi barang langka. Maka, ambillah peran positif dan konstruktif untuk kemajuan negeri. Jangan menjadi ketimun bungkuk, datang tak menggenapkan, pergi tak mengganjilkan. Mari kaum muda. Bangkitlah bersama menjadi pahlawan bangsa di dunia nyata. Demi kedaulatan, keutuhan, kemajuan, dan kejayaan Indonesia!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *