Kamis, 26 November 2020
Home/ Berita/ Entaskan Persoalan Petani, MPM PP Teken MoU dengan Unimma

Entaskan Persoalan Petani, MPM PP Teken MoU dengan Unimma

MUHAMMADIYAH.ID, MAGELANG-- Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah teken MoU dengan Universitas Muhammadiyah Magelang (unimma) tentang pendampingan masyarakat bidang pemberdayaan masyarakat untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat pada (6/11), di Mungkid, Magelang.
 
Rektor Unimma, Suliswiyadi dalam sambutannya menyebut, saat ini banyak petani tembakau yang beralih ke jenis tanaman pertanian lain. Hal ini dilakukan sebagai cara memperbaiki kesejahteraan petani. Terlebih disaat pandemi, matapencaharian petani semestinya menjadi sektor yang minim terdampak.
 
Akan tetapi kesejahteraan petani di Indonesia masih konsisten dibawah garis kemiskinan. Sulis mengakui, meskipun kampus yang dipimpinnya belum memiliki fakultas pertanian, namun perhatiannya kepada kelompok petani begitu besar. Ia beralasan, penyejahteraan kelompok tani adalah tugas semua pihak, serta masuk dalam program pengabdian masyarakat.
 
“Saat pandemi kini, kita harus belajar banyak dari petani. Karena petani dengan kearifannya tetap mampu survive di saat mayoritas masyarakat bergelimpungan menghadapi pandemi covid-19,” ucapnya.
 
Namun, petani bukan tanpa persoalan, ujarnya, ditengah pandemi yang terjadi secara global sektor pertanian sebenarnya merasakan dampak, akan tetapi tidak signifikan. Sehingga, bekerjasama dengan Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) Unimma berencana untuk menyelenggarakan kegiatan Sekolah Petani.
 
“Tujuannya untuk mempersiapkan petani pada kondisi yang saat ini berubah bergitu drastis. Distrubsi menjadi concern kita dalam sekolah tani ini. Terlebih terkait dengan pemasaran produk pertanian, maka petani harus dibekali kemampuan mencetak pasar, market place di era revolusi 4.0,” urainya
 
Menggapai tujuan tersebut, Sulis meminta supaya jejaring jama’ah tani Muhammadiyah sebagai resouces potensial bisa ditularkan semakin luas. Penguatan jaringan tani di Muhammadiyah menurutnya, beriringan dengan cita-cita PKO Muhammadiyah, yakni sebagai penolong kesengsaraan umum.
 
Nurul Yamin, Ketua MPM PP Muhammadiyah mengapresiasi gerakan yang dilakukan oleh Unimma beserta MTCC nya. Yamin dalam sambutannya menyebut, dalam penyelesaian masalah petani diperlukan gerakan secara berjama’ah atau berjejaring.
 
Petani, menurutnya, sebagai soko guru ekonomi negara agraris khususnya di Indonesia, posisinya masih memprihatinkan. Pasalnya, persoalan yang dihadapi oleh petani Indonesia sudah terjadi menahun, namun tak kunjung selesai. Sehingga kesejahteraan petani selalu berada di bawah rata-rata dari matapencaharian lain di Indonesia.
 
Bagi petani Indonesia yang menjadi persoalan diantaranya adalah semakin menyempitnya lahan. Kalau pun ada yang memiliki lahan luas, bisa dipastikan lahan tersebut dimiliki oleh korporasi besar. Sementara, masyarakat yang mengandalkan penghasilannya dari bertani saat ini jarang ditemui yang memiliki lahan luas, mereka biasa disebut sebagai ‘petani gurem’.
 
“Kalau pun toh ada yang luas dikuasai siapa sebenarnya pemiliknya dan siapa yang menikmati keuntungan atau hasil dari petani. Apakah sebenarnya orang lain yang menikmati,” imbuh Yamin
 
MoU yang dikemas dengan acara Focus Group Discussion (FGD) diikuti oleh sebanyak 56 orang dari MPM Pimpinan Pusat Muhammadiyah (2 orang), MPM Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (2 orang), Ketua PDM & MPM PDM Kabupaten Magelang (4 orang), Ketua PDM & MPM PDM Kabupaten Temanggung (2 orang), Ketua PDM & MPM PDM Kabupaten Boyolali (2 orang), Ketua PDM & MPM PDM Kabupaten Purworejo (2 orang), Ketua PDM & MPM PDM Kabupaten Klaten (2 orang), MPM PC Kabupaten Magelang (21 orang), Perwakilan Petani FPMI (5 orang), dan MTCC serta Union (12 orang). (A’n)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *