Minggu, 01 November 2020
Home/ Berita/ Media Massa sebagai Penentu Perkembangan Islam

Media Massa sebagai Penentu Perkembangan Islam

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA-- Kelahiran Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah tidak bisa dilepaskan dari peran media. Yang saat itu mediumnya diperankan oleh majalah Islam yang di dalamnya terdapat ide-ide baru, sehingga muncul gerakan reformis dalam dunia Islam di Indonesia.

Menurut Martin Slama, peneliti di Institute for Social Anthropology, Austrian Academy of Sciences, mengatakankan bahwa, kemungkinan jika tidak ada media saat itu mungkin Muhammadiyah tidak lahir dan tidak berkembang seperti saat itu.

Peneliti yang fokus pada dinamika sosial-religius kontemporer di Indonesia ini memaparkan temuan tersebut di International Conference on ‘Aisyiyah Studies (ICAS) 2020 pada Sabtu (17/10). Ia menyebut pada saat sekarang ini medium yang sangat berperan termasuk dalam relasi keagamaan adalah media sosial (medsos).

“Dan setiap medium itu ada konsekuensi pada pembentukan otoritas keagamaan,” katanya.

Keberadaan gerakan reformis Islam jika dilihat dari sudut pandang media, maka tidak bisa dilepaskan dari kemajuan teknologi. Misalnya berkembangnya media-media yang menyebarkan ide-ide baru Islam, seperti koran dan majalah akan membutuhkan mesin cetak.

Demikian pula dengan media lain yang berkembang pada abad 20 dan 21, juga berhubungan dengan teknologi tertentu yang kemudian melahirkan media tertentu. Dan dalam perkembangannya, kemajuan media akan berdampak pada otoritas agama Islam.

“Media sosial itu punya pengaruh cukup kuat terhadap bagaimana otoritas keagamaan dibentuk di dunia ini sekarang. Bukan hanya di Indonesia juga bukan hanya di agama Islam saja,” imbuhnya.

Media sosial yang populer di Indonesia juga telah digunakan oleh para pemuka agama Islam di Indonesia, media sosial saat ini sudah menjadi medan agama. Sehingga seorang yang tidak memiliki pendidikan agama yang mumpuni bisa menjadi terkenal dan menjadi pengkhotabah agama.

“Ada fenomena selebriti, seorang yang terkenal penyanyi atau artis mulai tertarik dengan agamanya dan mulai belajar agamanya, dan juga mulai menyampaikan agamanya, mulai berdakwah. Sampai dia jadi terkenal dan mulai banyak pengikut,” paparnya

Saat ini melalui adanya media sosial, media menjadi semakin lebih interaktif. Yang kemudian media sosial menjadi medan untuk saling menyampaikan argumen, dan ajaran yang dipercayai kebenarannya. Media sosial disisi lain juga menjadi ruang privat.

Di dalamnya bisa dimanfaatkan untuk berinteraksi antara satu dan dua orang yang membicarakan masalah pribadi yang mungkin tidak bisa dilakukan melalui medai offline. Fenomena interaktif juga menimbulkan perbedaan pada pola relasi antara otoritas keagamaan dengan jama’ahnya.

“Mungkin bisa dikatakan pluralisasi atau demokratisasi otoritas keagamaan, di mana orang dengan sangat cepat mengunakan media-media itu bisa meraih kedudukan otoritas keagamaan,” tutup Slama. (a'n)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *