Minggu, 01 November 2020
Home/ Berita/ Haedar Nashir; Hadirnya Unisa Bandung Harus Jadi Gelora yang Tidak Pernah Padam

Haedar Nashir; Hadirnya Unisa Bandung Harus Jadi Gelora yang Tidak Pernah Padam

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan harapan atas hadirnya Unisa Bandung.

Hadirnya Unisa Bandung bagi Haedar harus dijadikan gelora semangat yang tidak boleh padam pada pergerakan organisasi perempuan. Jangan sampai karena besarnya harapan, ‘Aisyiyah menjadi inferior atas amanah-amanah yang diembannya.

“Saya tadi mendengar banyak harapan dari berbagai pihak untuk Universitas ‘Aisyiyah Bandung. Beban ini jangan menjadi sesuatu yang membuat stres, tetapi harus tetap membangkitkan semangat yang menyala di tubuh ibu-ibu ‘Aisyiyah,” tuturnya saat memberikan keynote speech dalam Launching Unisa Bandung secara daring pada Sabtu (17/10).

Mengutip Prof. Mukti Ali, satu diantara ciri khas pembaharuan K.H Ahmad Dahlan yakni melahirkan pranata sosial modern, diantaranya adalah dengan berdirinya organisasi Perempuan Islam yang modern. Keberadaan organisasi perempuan di Muhammadiyah adalah identik dengan K.H Ahmad Dahlan yang tidak ada di Muh Abduh, dan tokoh-tokoh sebelumnya.

Sekarang, ucap Haedar, ‘Aisyiyah sendiri telah melahirkan pranata baru yakni Universitas ‘Aisyiyah. Unisa sebagai pranata baru yang dirancang-bangun oleh ‘Aisyiyah adalah Milestone yang namanya sudah memiliki branding kuat. Hikmah yang bisa dipetik atas berdirinya Unisa adalah etos badlul juhdi.

“Yaitu menggerahkan segala kemampuan yang menyatukan jiwa, pikiran, sikap dan tindakan menjadi sesuatu yang energinya luar biasa, itu yang disebut sebagai badlul juhdi. Di situ ada komitmen, niat tekad yang kuat, kegigihan dan perjuangan tak kenal lelah dan tak kenal menyerah, dan itu juga menjadi karakter Muhammadiyah,” ucap Haedar.

Kesuksesan yang dialami oleh ‘Aisyiyah saat ini menurut Haedar tidak bisa dilepaskan dari DNA Muhammadiyah, yakni jiwa produktif dan konstruktif. Jiwa ini yang menjadikan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah selalu hadir dan memberi pada kondisi sulit, dan lokasi terjauh.

“Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah itu tidak tong kosong bunyinya nyaring, itu bukan karakter Muhammadiyah-’Aisyiyah,” katanya.

Muhammadiyah dalam merespon segala persoalan, dan melakukan amar ma’ruf nahy mungkar serta memberikan kritik tidak dilakukan berterus-terusan. Karena Muhammadiyah memiliki keseimbangan (tawazun), tidak cukup hanya memberikan kritik tapi tidak melakukan perbuatan yang konstruktif.

Yang dilakukan oleh ‘Aisyiyah menurut Haedar adalah bentuk dari implementasi ad dakwah lil muwajahah. Ini menjadi dakwah alternatif yang dilakukakan oleh ‘Aisyiyah. Sehingga dalam menghadapi persoalan kekinian, tidak cukui dihadapai dengan yang ada melainkan harus memiliki nilai lebih dan tambah.

“Yang kedua dari ad dakwah lil muwajahah itu tidak cukup hanya dengan mereaksi, tidak cukup apalagi yang mengkonfrontasi. Tetapi muslim yang ingin membangun peradaban, dia harus mampu memberi solusi dan bila perlu dia mencari alternatif dari masalah yang dihadapi,” tuturnya.

Sebagai muslim, atau organisasi muslim dalam merespon masalah tidak boleh terpuruk dan terkurung dalam situasi yang dihadapi. Tetapi harus mampu keluar dan melakukanmuwajahah, juga menampilkan alternatif. Serta kata kunci yang tidak boleh ditinggalkan adalah kebersamaan dan sinergi bersama.

Kehadiran Unisa Bandung di Jabar diharapkan akan memberikan dampak signifikan bagi bidang pendidikan. Kampus yang dimiliki sepenuhnya oleh organisasi perempuan ini juga sebagai investasi dan legacy dari pergerakan perempuan, bahwa perempuan tidak hanya berkutat dalam urusan domestik. (a'n)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *