Minggu, 20 September 2020
Home/ Berita/ Nyai Walidah Berperan Besar dalam Pergerakan Perempuan

Nyai Walidah Berperan Besar dalam Pergerakan Perempuan

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAWA TIMUR — Kiprah kemajuan bangsa Indonesia saat ini tidak lepas dari peranan besar gerakan perempuan. Namun hal itu tidak serta merta berjalan mulus, sebab jika merunut sejarah masa silam, perempuan kerap dipandang sebagai manusia kelas dua. Alias di bawah laki-laki. Oleh karena itu, kiprah Siti Walidah sebagai motor penggerak emansipasi wanita menjadi penting dan signifikan.

Demikian dikatakan Hanif Mualifah, Sekretaris Pimpinan Wilayah Nasyiatul ‘Aisyiyah (PW NA) Jawa Timur dalam sesi Diskusi Online; Safari Walidah bertema “Melahirkan Spirit Nyai Walidah di Era Disrupsi” Ikatan Pelajar Muhammadiyah Jawa Timur (IPM Jatim), Sabtu (12/9) malam.

Menurutnya, kiprah Nyai Walidah lahir dari sikap kritis di masa kecil. Pada masa itu, tutur Hanif, Nyai Ahmad Dahlan pernah memprotes sikap sang ayah yang memberikan fasilitas berbeda antara laki-laki dan perempuan.

“Perempuan itu juga berhak pintar, ayah. Mengapa selalu menjadi manusia nomor dua?,” kata Hanif mengisahkan masa kecil Nyai Walidah.

Hanif menambahkan, konteks zaman dahulu perempuan hanya diperkenankan dipingit, alias di rumah saja, terutama untuk mengurusi urusan domestik. Lantas, kebebasan dalam memperoleh pendidikan, mencari karir, dan sebagainya, diberikan bagi laki-laki.

Karena protes tersebut, Nyai Walidah diberikan program pendidikan khusus di rumah oleh sang ayah. Lantas, berbekal semangat kritis itu, hal tersebut berlanjut ketika telah menikah dengan K.H. Ahmad Dahlan dan pada masa selepas Muhammadiyah berdiri.

Nyai Walidah dan K.H. Ahmad Dahlan lalu membentuk kelompok pengajian bernama Sopo Tresno. “Ini adalah diskusi perempuan atau kelompok kajian perempuan pertama kali yang dibentuk di Indonesia,” tambah Hanif.

Kemudian, Sopo Tresno sendiri lalu menjadi embrio terbentuknya Organisasi Otonom Muhammadiyah (Ortom) ‘Aisyiyah. Menurut Hanif, kiprah Nyai Walidah tidak hanya seputar untuk mendukung peranan perempuan, melainkan juga memberikan kesadaran untuk menggerakkan hak-hak perempuan, seperti membaca, menulis, dan mengakses pendidikan.

Dalam pengamatan Hanif, keberhasilan Nyai Walidah tidak lepas dari kesamaan misi dengan K.H. Ahmad Dahlan. Sebab hal itu amat menunjang kelancaran terbentuknya organisasi perempuan, utamanya ‘Aisyiyah.

“Saya yakin antara K.H. Ahmad Dahlan dan Nyai Walidah di dalam lingkungan keluarga terdapat dialog-dialog khusus yang mana pemikiran keduanya menyatu sehingga membentuk gerakan yang sama, yang sampai sekarang benar-benar massif,” pungkasnya.

Hadir yang juga narasumber kedua dalam diskusi daring tersebut, Tiara Khanza, Sekretaris Umum PC IMM Pasuruan Raya, serta kader-kader dan simpatisan IPM Jatim. (Syifa)

Sumber :Farid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *