Minggu, 20 September 2020
Home/ Berita/ Satukan Barisan Hadapi Pandemi, Muhammadiyah Utamakan Hifdzun Nafs

Satukan Barisan Hadapi Pandemi, Muhammadiyah Utamakan Hifdzun Nafs

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA – Memasuki bulan keenam pandemi Covid-19 di Indonesia tidak menunjukkan tanda-tanda melandai, justru sebaliknya kasus penularan semakin tinggi. Akibatnya 59 negara secara resmi menolak kedatangan warga negara asal Indonesia.

Menghadapi penanganan pandemi yang berlarut-larut, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar mengajak seluruh elemen Persyarikatan baik amal usaha hingga warga Muhammadiyah untuk merapatkan barisan.

“Kita paham ada problem berat yang dirasakan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan amal usaha, tapi yang harus kita utamakan saat ini, bahwa ini menyangkut wabah yang ancamannya jiwa manusia dan menyangkut secara keagamaan kita punya argumen teologis yang sangat kuat bahwa hifdzun nafs (menjaga nyawa, kaidah Ushul Fikih) adalah terdepan daripada yang lain,” kata Haedar.

Dalam acara Silaturahim dengan jajaran Rektor PTMA Sabtu (12/9) Haedar memandang perlindungan terhadap nyawa manusia tidak boleh digadaikan oleh kepentingan ekonomi. Karena itu alih-alih mencari kambing hitam dan menyalahkan berbagai pihak, dirinya mengajak warga Muhammadiyah memberikan solusi dan teladan terbaik melawan pandemi, yakni disiplin terhadap protokol kesehatan dan arahan Persyarikatan.

“Kita tidak saling menyalahkan, tapi untuk evaluasi dan koreksi, kita coba menganalisis. Supaya kita di Muhammadiyah juga tidak terjebak pada kekeliruan cara kita berpikir, atau ketidaktepatan berpikir yang sejak awal membuat langkah awal penanganan ini tidak tampak radikal, menyeluruh, dan bersifat total,” pesannya.

Tanpa menunggu aba-aba, Muhammadiyah memiliki inisiatif keseriusan menangani pandemi. Tercatat, 5 Maret 2020 sebelum Gugus Tugas Covid-19 dibentuk, Muhammadiyah sudah membentuk MCCC untuk menangani pandemi yang masih bekerja keras hingga saat ini.

Bagi Haedar, virus tidak mengenal birokrasi karena itu pandangan ahli epidemiologi dan tenaga kesehatan harus menjadi acuan utama di dalam penanganannya.

“Kekeliruan berpikir kita adalah menempatkan krisis ini seakan-akan krisis ekonomi. Orang lapar masih bisa disiasati tapi virus ini tidak,” imbuh Haedar berharap agar etika menjaga nyawa warga bangsa diperhatikan sebagai hal yang paling utama di dalam kebijakan publik.

“Kita di Muhammadiyah termasuk MCCC jangan sampai falsifikasi kekeliruan berpikir seperti itu kita adopsi dan ada dalam pikiran lembaga-lembaga Muhammadiyah, dan orang-orang Muhammadiyah, termasuk kampus-kampus yang membuka wisuda secara langsung, penerimaan dan lainnya. Ini penting agar kita tidak maju mundur dan permisif terhadap kebijakan yang semula ingin menyelamatkan ekonomi tapi dampaknya jebol diakhir,” tegas Haedar.

“Kita di Muhammadiyah termasuk PTM dengan kerendahan hati mengajak, mari kita menghadapi Covid-19 ini Hifzun Nafs diutamakan daripada yang lain. Problem ekonomi dapat kita siasati bersama. PSBB masih saja ada pro kontra yang tidak dipikir berapa sih jumlah korbannya tenaga kesehatan?” tanya Haedar.

“Kalau di jangkauan negara, kita sudah sampai pada batas tidak bisa memaksa, setidaknya kita di rumah Muhammadiyah berusaha untuk satu langkah, satu fokus, dan kita pecahkan masalah ini secara bersama-sama,” tutupnya. (afn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *