Minggu, 20 September 2020
Home/ Berita/ Tunggu Vaksin, Masyarakat Harus Patuhi Protokol Kesehatan

Tunggu Vaksin, Masyarakat Harus Patuhi Protokol Kesehatan

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA – Dokter Spesialis dari Departemen Anatomi dan Neurobiologi Universitas California, Irvine Amerika Serikat Taruna Ikrar optimis vaksin Covid-19 akan ditemukan dalam setahun kedepan.

Dalam program Covid-19 Talk on TV, Kamis (6/8) ahli yang telah berkecimpung di dunia farmakologi selama 27 tahun itu menjabarkan bahwa vaksin Covid-19 sudah ditemukan, hanya saja belum ada yang disahkan secara klinis.

Menurut Taruna, dari 4 model yang ada dalam pembuatan vaksin, 155 kandidat vaksin Covid-19  telah terdaftar di WHO dan FDA dan sedang menjalani uji klinis untuk dipastikan keamanannya bagi manusia.

“Dari 155 itu, 27 sudah diuji pada manusia. Sementara dari 27  itu ada 11 yang masuk ke fase 2, dan ada 4 yang masuk ke fase 3 atau fase akhir sebelum dipasarkan. Dilihat semua resikonya, harus hati-hati,” jelasnya.

Meski remdesivir dan dexamethasone terbukti manjur untuk mengobati penderita Covid-19 dengan gejala berat, tanpa vaksin upaya pencegahan penularan Covid-19 hanya bisa bergantung pada kepatuhan manusia pada protokol kesehatan.

“Nah sekarang pencegahan gejala ringan jangan sampai masuk ke gejala berat, apalagi sampai gagal jantung dan gagal napas,” imbuh Taruna yang juga turut berada dalam tim penelitian vaksin Covid-19 di Aivita Biomedical.

Senada dengan Taruna, dokter spesialis anestesi sekaligus Wakil Ketua Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) Muttaqin Alim menjelaskan dalam manajemen bencana dan resiko, hanya kepatuhan masyarakat pada protokol kesehatan yang bisa diandalkan.

Hazard yaitu penyakit yang menempel di manusia, jadi yang berbahaya manusia. Vulnerability (kerentanan) sekarang berubah jadi yang sehat membawa hazard, jadi rumusan bencana kacau balau,” jelas Alim sembari menyayangkan ketidaktepatan pengelolaan resiko bencana oleh pemerintah pada awal munculnya Corona di sekitar wilayah Asia.

“Miss manajemen ini ditambah hoax karena era matinya kepakaran. Masyarakat ada yang bingung, bahkan anti. Ini sebelum vaksin. Ketika vaksin disebarkan kita punya pengalaman ditolak karena soal politik, misinformasi, dan komunikasi antara saintis, pengambil kebijakan dan masyarakat yang tidak seharusnya. Buntu. Sehingga masyarakat mencari informasi di tempat yang tidak jelas,” imbuhnya.

Karena itu, Alim berharap para ilmuwan yang punya otoritas keilmuan untuk terjun ke berbagai sosial media dengan bahasa yang mudah untuk memberikan informasi yang tepat kepada masyarakat.

“Muhammadiyah punya peran penting untuk fasilitator itu, seperti covid talk ini dan lain sebagainya. Selama menunggu vaksin, masyarakat harus mencari informasi yang benar,” jelasnya. (afn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *