Selasa, 04 Agustus 2020
Home/ Berita/ Berusia 97 Tahun, Launching Majalah Suara Aisyiyah Digital

Berusia 97 Tahun, Launching Majalah Suara Aisyiyah Digital

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA – Digitalisasi media cetak sudah tidak terelakkan lagi. Seiring dengan perubahan medium penyebaran informasi, teknologi cetak perlahan berganti menjadi teknologi digital. Majalah Suara ‘Aisyiyah tengah beradaptasi dengan perubahan teknologi tersebut. Majalah perempuan muslim tertua di Indonesia ini akhirnya merilis bentuk digital Suara Aisyiyah.

Siti Noordjanah Djohantini, Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah mengatakan bahwa digitalisasi majalah Suara ‘Aisyiyah merupakan respon terhadap perubahan teknologi media komunikasi.

Hal tersebut ia sampaikan pada hari Sabtu tanggal 11 Juli dalam acara “Launching Aplikasi & Website Suara ‘Aisyiyah “97 Tahun Suara ‘Aisyiyah”, sekaligus Seminar Daring Arah & Tantangan Media Dakwah di Era Virtual.

“Sebagai media dakwah, majalah (Suara ‘Aisyiyah) yang usianya hampir satu abad ini memiliki makna begitu mendalam. Majalah ini merupakan bagian dari media dakwah persyarikatan Muhammadiyah untuk kemuliaan dan keinginan memajukan perjuangan perempuan dan laki-laki” jelas Noordjanah

Majalah Suara ‘Aisyiyah pertama kali terbit tahun 1926, memiliki jejak kesejarahan yang panjang, menjadi bagian dari pergolakan pergerakan perempuan Indonesia waktu itu. Sejak kelahirannya sampai sekarang, majalah yang telah berusia 97 tahun itu tetap teguh dalam prinsip utamanya, yakni misi Perempuan Berkemajuan dan misi kesejahteraan umat kemanusiaan universal.

Majalah Suara ‘Aisyiyah pada tahun awal kelahirannya memainkan peran penting sebagai corong organisasi pergerakan perempuan Islam. Pada masa itu, majalah Suara ‘Aisyiyah telah menjadi bagian dari proses penting perjuangan perempuan mengkonsolidasikan makna perlawanan antikolonialisme dan membentuk identitas perempuan muslim modern.

Noordjanah menambahkan bahwa pada saat itu, sebelum lahirnya Majalah Suara ‘Aisyiyah, sudah ada media perempuan yang bernama Poetri Hindia yang pertama kali terbit pada 1 juli 1908. Surat kabar yang didirikan oleh Tirto Adhi Soerjo ini menjadi wadah bagi lahirnya jurnalis perempuan generasi awal.

Berbicara tentang media cetak perempuan tanah air, menurut Noordjanah, tidak bisa dilepaskan dari perhelatan Kongres Perempuan pertama yang diselenggarakan pada tahun 1928 di Yogyakarta. Ide-ide besar yang diusung dalam kongres tersebut sebagiannya adalah gagasan yang telah diwacanakan oleh media-media perempuan Indonesia.

“Bahkan isu yang dibahas di jaman itu sampai sekarang masih berlanjut. Ini artinya bahwa dakwah kita belum selesai terkait dengan ikhtiar kita untuk penguatan perempuan, perlindungan hak-hak perempuan, anak dan kelaurga” tuturnya

Oleh karena itu, Suara ‘Aisyiyah harus dicintai. Noordjanah menegaskan, belum sah menjadi anggota maupun pimpinan ‘Aisyiyah kalau tidak atau belum rutin membaca Majalah Suara ‘Aisyiyah. Karena di dalamnya terdapat panduan, pedoman berorganisasi, keputusan dan wawasan, serta berisi isu-isu aktual yang penting untuk diperhatikan bersama.

“Keberadaan Suara ‘Aisyiyah bagi persyarikatan Muhammadiyah sangat penting. Sebab, majalah ini melengkapi aspirasi keislaman cita-cita Islam berkemajuan” tutup Noordjanah. (a’an)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *