Selasa, 04 Agustus 2020
Home/ Berita/ Peringati Hari Keluarga dan Anak Nasional, MPS PP Muhammadiyah Gelar Festival Daring

Peringati Hari Keluarga dan Anak Nasional, MPS PP Muhammadiyah Gelar Festival Daring

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA—Peringatan Hari Keluarga dan Hari Anak Nasional tahun 2020, Majelis Pelayanan Sosial (MPS) PP Muhammadiyah selenggarakan Festival Daring. Selain diskusi daring yang diadakan pada, Kamis (2/7), juga akan mengadakan kelas daring pengasuhan alternatif pada Rabu, 8 Juli 2020.

Sularno, Ketua MPS PP Muhammadiyah dalam sambutannya mengatakan, terkait perubahan siklus kehidupan keluarga di masa pandemi harus dipahami atau disikapi dengan cara terbalik. Bukan hanya mengumpat dan merasa jenuh secara berkelanjutan karena keterbatasan aktifitas, melainkan harus dimanfaatkan sebagai waktu untuk semakin lama berkumpul bersama keluarga.

“Kita harus melihat dengan cara sebaliknya, karena berkeluarga yang normal adalah pada saat pandemi ini. Sebelum pandemi bapaknya berangkat jam berapa, ibu nya sama dan anaknya pergi entah kemana. Tapi sekarang justru di pandemi ini kita betul-betul merasakan kita berkeluarga.” tuturnya.

Meskipun nanti ketika masa pandemi covid-19 usia, Sularno berharap kebersamaan Bersama keluarga tidak kemudian ikut usia. Karena kebersamaan keluarga di era modern-postmodern menjadi suatu yang mahal harganya. Menurutnya, keluarga sebagai satuan komunitas terkecil penyusun komposisi negara harus mendapat apresiasi dan perhatian penuh.

Negara sebagai komunitas besar yang mendiami suatu territorial tertentu, akan baik kehidupan didalamnya, kuat masyarakat atau bangsanya, dan maju peradabannya maka untuk menuju kebaikan tersebut dimulai dari perbaikan komunitas terkecil, yaitu keluarga. Sehingga diperlukan sinergi yang dilakukan oleh semua pihak untuk memperbaiki keluarga.

Ditengah masa pandemi banyak sekolah yang merumahkan peserta didiknya. Artinya, mereka tidak sama sekali libur, melainkan proses belajar mengajar untuk sementara waktu sampai pandemic usai diserahkan ke orang tua. Menurut pengakuan Sularno, banyak dari orang tua yang mengeluhkan susahnya mendampingi anak belajar.

“Jadi jangan sampai nanti jika ada guru yang agak sedikit keras saja, bukan berarti mempraktekan kekerasan, kemudian wali murid buru-buru melaporkannya ke pihak berwenang. Sekarang baru tahu bagaimana susahnya mendidik anak.” kata dia.  

Secara khusus kepada orang tua atau wali murid, Sularno berpesan untuk tidak menyepelekan peran guru di sekolah. Selain itu, Ia juga mengajak kepad keluarga Indonesia untuk merefleksi diri masing-masing untuk bisa menciptakan keluarga yang utuh, keluarga yang bisa membentuk kekuatan negara.

Sementara itu, melalui persepektif Tarjih, Wawan Gunawan Abdul Wahid menuturkan bahwa, Tuntunan Keluarga Sakinah didesain melalui beberapa prinsip sesuai dengan Manhaj Tarjih. Seperti melalui model ijtihad bayani, burhani, dan irfani seluruhnya ada dalam tuntunan tersebut.

Artinya dalam mendesain tuntunan, Majelis Tarjih selain mengutip teks juga berangkat dari konteks yang terjadi. Kebaruan yang dilakukan oleh Majelis Tarjih tentang Tuntunan Keluarga Sakinah tahun 1989, dengan yang sekarang juga melalui diskusi yang panjang. Selain melibatkan ulama agama, juga melibatkan para pakar dari bidang ilmu sosial, keluarga dan lain-lain.

“Tuntunan yang relatif baru ini adalah pada aspek kebaruan konteks yang dirujuk. Ada kekinian fakta baru dan itulah yang merubah setting yang memunculkan tuntunan hari ini. Sehingga ini adalah bagian dari ke-burhani-annya. Sedangkan aspek irfani adalah terkait kata yang diulang-ulang yaitu pada spiritualitas.” urainya.

Dalam kesejahrannya, Hari Keluarga Nasional terjadi sebagai peringatan kembalinya para pejuang Indonesia ke keluarga masing-masing pada 29 Juni 1949. Di mana pada 22 Juni 1949, Belanda menyerahkan kedaulatan bangsa Indonesia secara utuh.

Sementara itu, merujuk kepada Undang-Undang Nomor 10 tahun 1992 dan PP Nomor 21 Tahun 1994, terkait fungsi yang dijalankan keluarga adalah meliputi delapan fungsi, yakni fungsi agama, sosial budaya, cinta kasih, melindungi, reproduksi, Pendidikan, ekonomi dan fungsi pembinaan lingkungan. (aan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *