Jum'at, 07 Agustus 2020
Home/ Berita/ APIK PTMA Diskusikan Tata Kelola Komunikasi Hadapi Corona Covid-19

APIK PTMA Diskusikan Tata Kelola Komunikasi Hadapi Corona Covid-19

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA - Sebanyak 124 akademisi Ilmu Komunikasi dari Indonesia, Malaysia, China, dan Selandia Baru mengikuti webinar bertajuk Tata Kelola Komunikasi Hadapi Virus Corona Covid-19 pada Kamis (26/03). Webinar ini diadakan oleh Asosiasi Pendidikan Ilmu Komunikasi Perguruan Tinggi Muhammadiyah – ‘Aisyiyah (APIK PTMA) sebagai bentuk kontribusi keilmuwan asosiasi, institusi dan individu akademisi Ilmu Komunikasi di lingkungan PTMA.

Empat orang pembicara utama mengawali diskusi webinar, yaitu Dr. Rudianto (wakil rektor III Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara), Himawan Muhammad MA (ketua umum APIK PTMA), Dani Fadhilah (mahasiswa doktoral Nanjing Normal University China, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan), dan Ayub Dwi Anggoro (kandidat doktor di Universiti Zainal Abidin Malaysia , dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Ponorogo), dengan dimoderatori Dr. Fajar Junaedi (dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta).

Dani Fadilah menyebutkan bahwa berdasar pengamatannya di China, masyarakat sangat disiplin ketika pemerintah mengumumkan terjadinya wabah Corona. “Di China bahkan robot berteknologi kecerdasan artifisial dimanfaatkan untuk memonitor masyarakat yang berpotensi menyebarkan virus sehingga penyebaran virus bisa diisolasi,” ujar Dani.

Sementara Ayub Dwi Anggoro menyebutkan bahwa di Malaysia, otoritas pemerintah yang memberikan informasi tentang Corona Covid-19 adalah para pejabat yang berkompeten dengan penerapan aturan dan hukum yang tegas. “Di Malaysia, pejabatnya sejak awal serius. Tidak ada pejabat pemrintah yang menjadikan Corona sebagai joke dan guyonan,” kata Ayub.

Sedangkan di Indonesia, menurut Rudianto ada persoalan yang lebih kompleks. “Persoalan dan tantangan kita dalam menghadapi penyebaran Corona adalah sumber informasi yang berlimpah, kecepatan dan keterbukaan informasi, keberagaman budaya, serta latar belakang sosial ekonomi yang berbeda. Seharusnya kecepatan dan keterbukaan informasi dikelola dengan baik dalam hadapi Corona,” jelas Rudianto.

Webinar ini diharapkan bisa ditindaklanjuti, sebagai bentuk kontribusi keilmuwan akademisi Ilmu Komunikasi, dalam beragam bentuk aktivitas lain, seperti publikasi.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *