Sabtu, 07 Desember 2019
Home/ Berita/ Pendampingan dan Pemberdayaan Petani Jadi Keberhasilan Muhammadiyah Menggerakkan Dakwah Berbasis Jama’ah

Pendampingan dan Pemberdayaan Petani Jadi Keberhasilan Muhammadiyah Menggerakkan Dakwah Berbasis Jama’ah

MUHAMMADIYAH.ID, SIGI — Mengalami proses yang luar biasa, berawal dari ketakberdayaan petani bawang di Binomaru, Sigi akibat gempa bumi sebesar 7,4 SR tahun 2018 silam. Kini, mereka lebih berdaya setelah kehadiran Muhammadiyah melalui Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (LazisMu) dan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah.

Hal tersebut dikemukakan oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sigi, Muhammad Nasihin pada Sabtu (30/11) saat ditemui tim Muhammadiyah.id di Gowa, Sulawesi Selatan.

“Banyak petani bawang kita yang gagal dan mengalami kesulitan pasca gempa bumi 2018. Banyak fasilitas pertanian yang rusak, Muhammadiyah melalui pendampingan intensif sampai membuat sumur artesis, berhasil mengembalikan semangatnya petani bawang,” tuturnya.

Melalui Lazismu dan didampingi MPM, petani bawang kembali giat menanam karena fasilitas yang awalnya rusak dibangun lagi oleh Muhammadiyah. Terlabih dalam persoalan pengairan, Muhammadiyah bergerak cepat melalui pemberian bantuan berupa sumur artesis yang berperan vital dalam pertanian.

Sebanyak 5 sumur artesis bantuan dari Muhammadiyah mampu mengairi seluas 30 Ha lahan pertanian yang sebelumnya rusak tidak bisa digunakan. Bahkan, sudah ada dari beberapa petani berhasil membudidayakan bawang dan melakukan olahan lanjutan sampai menjadi bawang goreng.

“Petani yang berhasil dalam bertani bawang, banyak yang sekarang menyalurkan zakatnya ke LazisMu. Sehingga panen pertama dan kedua petani memiliki ghiroh untuk menyalurkan zakatnya ke Lazismu,” tambahnya.

Keinginan untuk lebih baik dalam mensejahterakan petani bawang, MPM berinisiatif untuk tidak langsung menjual bawang dalam keadaan mentah. Melainkan dilakukan pengolahan lebih lanjut menjadi bawang goreng. Terobosan tersebut sebagai cara menjaga stabilitas harga bawang, karena ketika panen dan hasil bawang melimpah, petani banyak dipermainkan oleh tengkulak dengan menurunkann harga bawang.

“Dari bahan mentah menjadi barang jadi, yang dikenal di Palu dan sekitarnya sebagai bawang goreng. Itu bisa menambah nilai dari bawang,” katanya

Usaha berdaya yang diterapkan kepada petani bawang di Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Biromaru, Sigi, Sulawesi Tenggah (Sulteng) tidak bisa dilakukan secara mandiri. Melainkan dilakukan melalui jama’ah, mereka kemudian tergabung dalam Jama’ah Tani Muhammadiyah (JATAM) yang dibawahi oleh MPM PP Muhammadiyah.

“Sebelum gempa ini petani berjalan sendiri-sendiri, kemudian ketika gempa petani sangat terpuruk karena tidak bisa menanam disebabkan tidak ada pengairan. Kemudian Muhammadiyah masuk mendampingi, menjadikan semakin erat kerjasama antar petani ini. Kebersamaan dan semangat mereka bekerja, ketika mereka mengalami kesulitan ada tempat untuk konsultasi,” urainya.

Keberhasilan dalam pemberdayaan yang dilakukan oleh Muhammadiyah mampu untuk mengerakkan dakwah yang berbasis jama’ah. Mereka menyebut kelompk petani bawang ini sebagai Alumni 7,4 SR, sebagai penginggat agar tidak kembali terpuruk. Melalui ingatan tersebut dipakai sebagai motivasi dan bangkit untuk mengembangkan diri. Sehingga jangan sampai terlena dan sedih berkepanjangan karena persitiwa setahun silam.

“Saya berharap Muhammadiyah selalu mendampingi masyarakat tertigal, dan bisa berpindah ke sektor pertanian lain. Karena potensi pertanian di lain tempat sebenarnya banyak, akan tetapi belum ada metode yang pas untuk melakukan pengolahan,” tutup Muhammad Nasihin. (a'n)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *