Sabtu, 07 Desember 2019
Home/ Berita/ Jalan Juang Ki Bagus Hadikusumo untuk Muhammadiyah dan Bangsa

Jalan Juang Ki Bagus Hadikusumo untuk Muhammadiyah dan Bangsa

MUHAMMADIYAH.ID, SLEMAN -- Siapa sesungguhnya Ki Bagus Hadikusumo?  nama tersebut seharusnya tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Perjuangan Ki Bagus Hadikusumo dalam kemerdekaan Indonesia juga tidak perlu diragukan. Kehadirannya sebagai salah satu perancang dasar negara Indonesia juga telah diakui banyak orang. Hal tersebut juga diamini oleh negara dengan gelar Pahlawan Nasional yang diterimanya.

Abdul Munir Mulkan,  Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengatakan, dulu di zaman-zaman awal kemerdekaan itu pemimpin Muhammadiyah tingkat nasional terlibat dalam dinamika negara. Dari catatan yang saya telusuri sekurang-kurangnya ada lima yang salah satunya Ki Bagus Hadikusumo.

Hal tersebut dikatakannya pada acara Peluncuran Film dan Seminar Nasional 'Jalan Juang Ki Bagus Hadikusumo' untuk Muhammadiyah dan Bangsa bertempat di Hall Baroroh Barried lt 4 Universitas 'Aisyiyah (Unisa)  Yogayakarta,  Sabtu (30/11).

Munir menyampaikan sampai saat ini masih terjadi perdebatan tentang Ki Bagus hadikusumo yang dianggap radikal.

"Perdebatan tentang Ki Bagus Hadikusumo radikal atau moderat, kalau dibaca secara sepotong mungkin di klaim radikal. Sehingga membacanya harus utuh," ungkap Munir.

Saat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, Ki Bagus Hadikusumo, turut mendukung Indonesia sebagai negara Islam. Namun kemudian bertransformasi mendukung Indonesia menjadi republik.

"Saya melihat dari pendekatan politik negara berdasar Islam lalu bertransformasi dengan pendekatan budaya kultural. Ini nemberi inspirasi Ki Bagus untuk menyusun muqodimah anggaran dasar," katanya.

Menyambung Munir, Ahmad Syafi'i Maarif, Ketua Umum PP Muhammadiyah 1998-2005 menyinggung tentang kiprah Ki Bagus Hadikusumo yang ternyata pendidik yang tidak punya ijazah namun berupaya untuk belajar sendiri. 

"Sekolah penting tapi sebenarnya penting kemauan belajar dari dalam. Yang sekarang orang Indonesia kurang membaca,  memang melelahkan, tapi saya sekarang sudah 84 tahun masih membaca dan menulis. Ki Bagus tidak punya ijazah tapi dia punya kemauan keras untuk merubah dirinya," jelasnya.

"Ki bagus itu orang berfikir kalau dia mengeluarkan pendapat itu dengan banyak pertimbangan," imbuhnya. (Syifa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *