Kamis, 26 November 2020
Home/ Berita/ Kisah ‘Kesaktian’ Tokoh Muhammadiyah

Kisah ‘Kesaktian’ Tokoh Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA — Meski dikenal sebagai organisasi Islam modern yang rasional, tapi Muhammadiyah tetap menyimpan dan memiliki kisah menarik terkait ‘kesaktian’ para tokohnya. Meskipun jarang ditemukan kisah-kisah ‘kesaktian’ tersebut, bukan berarti kisah tersebut tidak ada.

Kisah ‘kesaktian’ tersebut datang dari tokoh Muhammadiyah di Pekajangan, Pekalongan. Ialah KH Abdurrahman yang karib disapa Pak Haji, salah satu tokoh perintis pertama berdirinya Muhammadiyah di Kecamatan Pekajangan, Pekalongan. Meski sebagai perintis, KH Abdurrahman enggan untuk menerima jabatan struktural di Muhammadiyah, ia lebih memilih menjadi anggota biasa.

Diceritakan dalam buku Riwayat Hidup (Ri Dup) KH Abdurrahman yang diterbitkan oleh Pimpinan Muhammadijah Tjabang Pekadjangan (Pekalongan) tahun 1968. Pada saat KH Abdurrahman masih muda, dimalam hari yang hening ketika Pak Haji sedang bersantai di dalam rumahnya. Kemudian rumahnya dimasuki maling/pencuri yang di’pergoki’ olehnya.

Jika kebanyakan orang mengetahui pencuri, akan reflek dengan teriak dan meminta tolong kepada tetangganya. Namun beda halnya dengan Pak Haji, mengetahui kedatangan tamu tidak diundang itu, Ia malah menutup dan mengunci pintunya dari dalam. Dan bersiap untuk melawan atau mengajak duel pencuri tersebut.

Pencuri yang terpojok tersebut kemudian melawannya, sebab kalau lari keluar akan tertangkap dan menjadi bulan-bulanan massa. Maka terjadilah pertarungan sengit, keduanya saling jual beli serangan, memukul dan menangkis. Sehingga kegaduhan tersebut terdengar sampai keluar rumah, dan didengar oleh tetangga. Yang kemudian ramai-ramai mengepung rumah tersebut.

Tetangga atau massa yang telah berkumpul diluar berusaha untuk membuka pintu rumah. Namun dengan tegas dilarang oleh Abdurrahman, “Biarlah aku hajar sendiri si maling ini, jagoan penjahat yang meneter kesaktiannya.” Teriak Abdurrahman dari dalam sembari tetap meladeni serangan si pencuri.

Tidak berselang lama, Abdurrahman membuka pintu sambil menyeka keringat yang menetesdi dahinya. Ia berhasil melumpuhkan si pencuri, sehingga warga yang telah berkumpul dengan mudah menyeretnya untuk diserahkan kepada pihak keamanan.

KH Abdurrahman memiliki perawakan tubuh yang tinggi, tegap dan kuat. Karena beliau memang dikenal sebagai ahli pencak silat. Kepiawaian bermain pencak silat Pak Haji pernah disaksikan oleh para utusan Muktamar di Yogyakarta.

Ketika didalam pondokan tempat menginap Muktamirin, Pak Haji pernah sparing atau adu tanding silat dengan KH Mas Mansur salah satu Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menguji keahlian bermain silat Pak Haji. Meskipun adu tanding tersebut sifatnya hanya senda-gurau untuk mengisi waktu luang, namun gerak langkah Pak Haji menunjukkan seorang yang ahli.

Pak Haji sendiri lahir pada tahun 1879 di Pekajangan, Pekalongan. Dengan nama kecil Mutaman bin H Abdulkadir, beristrikan Nyai Haji Sofijah. Sementara, perjumpaan beliau dengan Muhammadiyah dimulai ketika kelompok pengajian yang dibentuknya dilarang oleh Polisi setempat. Kemudian Ia berinisiatif untuk meminta bantuan kepada PP Muhammadiyah yang bertempat di Yogyakarta, niatan tersebut sempat ditahan oleh teman sejawatnya. Mereka mengira bahwa Muhammadiyah adalah organisasi Kristen.

Namun Pak Haji tetap bersih-keras untuk berkunjung ke Yogyakarta dan bertemu dengan perwakilan dari Muhammadiyah. Kedatangannya disambut oleh H Muchtar, H Abdulrrahman Machdum, H Wasool Dja’far dan lain-lain. Dari perjumpaan tersebut, Ia berhasil memahamkan kepada teman-temannya perihal Muhammadiyah. Yang kemudian bersama dengan teman-temannya pada 15 November 1922 menurut surat keputusan PP Muhammadiyah, berdiri Muhammadiyah Cabang Pekajangan. (A’n)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *