Kamis, 19 September 2019
Home/ Berita/ KPK Dorong Nasyiatul Aisyiyah Tingkatkan Partisipasi Perempuan dalam Pencegahan Korupsi

KPK Dorong Nasyiatul Aisyiyah Tingkatkan Partisipasi Perempuan dalam Pencegahan Korupsi

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA – Korupsi yang terjadi di Indonesia telah menyebabkan demoralisasi karena praktek korupsi yang sudah terstruktur, sistemik dan masif (TSM). Didukung dengan proses pilkada lima tahunan yang tak jauh dari sifat koruptif sehingga pemilu yang semestinya demokrasi rakyat sekarang menjadi demokrasi oligarki dan bisnis.
 
Hal itulah yang menjadi kewaspadaan Busyro Muqoddas, Ketua PP Muhammadiyah Bidang Hukum dan HAM yang menjadi pemateri dalam Workshop dan Talkshow Anti Korupsi yang digelar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama PP Nasyiatul ‘Aisyiyah, pada Jumat (30/8/2019) di Aula PP Muhammadiyah, Yogyakarta. 
 
“Menurut hemat saya pilkada itu demokrasinya oligarki politik dan bisnis, karena cukng-cukong sangat berperan bahkan sampai pemilu,” sebut Busyro. 
 
Ketika sudah terjadi seperti itu, kata Busyro pancasila justru sesungguhnya berada dalam posisi peningkaran bahkan disemua silanya. Karena praktek birokrasi yang tidak lepas dari kleptokratif (pemerintahan koruptif). 
 
Disitulah Busyro menekankan peranan Nasyiatul ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan di bawah Muhammadiyah harus turut ikut melawannya bersama KPK, Ormas dan masyarakat sipil. 
 
“Mudah-mudahan dengan kerjasama anatara KPK dan Nasyiatul ‘Aisyiyah menjadi bagian pencerahan yang lebih kongkret terhadap pencegahan korupsi,” pesannya. 
 
Mantan Ketua KPK tersebut juga mengingatkan KPK yang saat ini menjadi satu-satunya lembaga andalan bangsa, umat dan rakyat Indonesia yang saat ini terus dilumpuhkan oleh kekuatan politik, bisnis bahkan kolaborasi antar keduanya. 
 
Sementara pemateri lain Talkshow Anti Korupsi PP Nasyiatul ‘Aisyiyah adalah Giri Suprapdiono, Direktur Gratifikasi KPK. Dalam penyampainnya Giri Suprapdiono mendukung organisasi Islam berperan dalam mendukung pencegahan korupsi termasuk Muhammadiyah bersama elemen organsiasi otonomnya seperti Nasyiatul ‘Aisyiyah. 
 
“Muhammadiyah dengan segala kekuatan dan sumber daya yang dimiliki sangat luar biasa, dimana sejauh ini Muhammmadiyah menjaga independensi,” kata Giri. 
 
Disamping itu Giri juga mendorong Nasyiatul ‘Aisyiyah terus meningkatkan partisipasi perempuan dipublik karena tanpa disadari menjadi salah satu pencegahan korupsi. 
 
Sebagaimana penelitian yang dilakukan lembaga di Korea Selatan mengugkapkan, sebenarnya yang menentukan tingkat korupsi suatu negara bukan laki-laki atau perempuannya tetapi negara yang menghargai peran perempuan dan laki-laki yang relatif setara atau dalam arti geder relation-nya bagus. Negara yang memberikan ruang lebih besar kepada keadilan yang tidak memandang laki-laki dan perempuan, maka negara tersebut tingkat korupsinya relatif sedikit.
 
Selain Busyro Muqoddas dan Giri Suprapdiono acara yang digelar selama tiga hari dari tanggal 30 Agustus – 1 September 2019 ini juga turut menghadirkan pemateri Tarman Budianto (Penyuluh Anti Korupsi), Sandri Justiana (Pusat Studi Anti Korupsi), Rimawan Pradiptyo (Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM) serta beberapa aktivis anti korupsi. (Andi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *