Sabtu, 14 Desember 2019
Home/ Berita/ KH Ibrahim, Organisatoris Ulung yang Ngopeni Anak Muda

KH Ibrahim, Organisatoris Ulung yang Ngopeni Anak Muda

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA — KH. Ibrahim, President Hoofdbestuur Muhammadiyah kedua yang memimpin mulai dari tahun 1923 sampai 1933. Sosok Jawa yang selalu senang mengenakan jubah panjang dan sorban, juga dikenal sebagai ulama besar dan berilmu tinggi.

Adik kandung Nyai Walidah ini lahir di Kampung Kauman, 7 Mei 1874. Ibrahim muda mengenal Al Qur’an sejak usia 5 tahun, diusia 17 tahun pergi ke Tanah Suci menunaikan Ibdah Haji sekaligus menuntut ilmu di Makkah kurang lebih 7-8 tahun. Sebagai orang Jawa, Ibrahim juga dikenal mahir dalam seni baca Qur’an (Qira’at) serta mahir dalam berbahasa Arab.

Meski mahir dalam berbahasa Arab dan memiliki penampilan khas orang Arab (Bersurban dan berjengot), Ibrahim sama sekali tidak anti dengan lingkungan sosial Jawa disekitarnya. Perhatian tersebut ia buktikan dengan mengumpulkan Ibu-ibu di lingkungannya untuk terhimpun dalam kajian adz-Dzakiraat.

Selain dikenal sebagai ulama dengan keilmuan yang tinggi, President HB Muhammadiyah kedua ini juga dikenal sebagai organisatoris ulung. Berkat kemampuannya ini, pengajian yang seyogyanya sebagai ladang mendulang ilmu, ia manfaatkan dan kembangkan sebagai wadah untuk menggalang dana bagi keberlangsungan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), majelis (bagian) baik yang bawah kepenguruan Muhammadiyah maupun ‘Aisyiyah.

Dalam kepemimpinanya, telah diselengarakan sebanyak sepuluh kali Rapat Tahunan Muhammadiyah. Di periodenya, Muhammadiyah berkembang keberbagai daerah. Tercatat, Kongre Muhammadiyah berhasil diselengarakan di Surabaya, Pekalongan, Solo, Bukit tinggi, Makassar, dan Semarang. Dipilihnya lokasi Kongres yang berbeda dimaksudkan untuk menyebarkan Muhammadiyah.

Kemampuan KH. Ibrahim dalam menjalankan organisasi diuji ketika ia menjadi pengisi dalam kajian Hasanah yang dibentuk oleh Politieke Economische Bond (PEB), sebuah organisasi persatuan buruh pabrik gula yang dimiliki Belanda. Ibrahim difitnah karena dianggap menerima dana dari Belanda dari aktifitasnya membina keagamaan buruh pabrik. Namun fitnah tersebut berhasil ditepis dengan meungundang perwakilan Cabang-cabang Muhamamdiyah untuk mengaudit laporan keuangannya.

Selain sebagai organisatoris ulung, kebiasaan yang paling mencolok dari KH. Ibrahim dengan pendahulunya adalah masih suka ‘ngopeni’ santri-santri muda yang hendak ngaji kepadanya dengan metode sorogan dan wetonan. Ia menerima santri yang ingin mengaji kepadanya setiap hari, kecuali hari Jum’at dan Selasa. Metode sorogan tetap dipertahankan tanpa menghilangkan metode ala Barat yang dikembangkan sebelumnya oleh Kakak Iparnya, Ahmad Dahlan.

Metode sorogan dilakukannya mulai dari jam 07.00 sampai 09.00, metode ini Ia terapkan kepada santri yang berasal dari anak-anak muda di Kauman. Dipilihnya metode ini, karena memperhitungkan jumlah santri yang hanya berasal disekitarnya. Sedangkan untuk metode weton dimulai seusai sholat Asar sampai pukul 17.00, dengan cara KH. Ibrahim membacakan kitab lalu para santri menyimak melalui kitabnya masing-masing.

Kepeduliannya terhadap generasi muda dituangkan dalam bentuk lembaga, Fonds Dachlan. Lembaga yang berdiri pada tahun 1924 ini bertujuan untuk membiayai sekolah anak-anak miskin dan terlantar. Ia juga melakukan perbaikan dibidang perkawinan. Melalui bidang ini KH Ibrahim ingin mencetak kader-kader inti yang akan mengemban tugas keMuhammadiyahan kedepan dengan cara menjodohkan putra dengan putri Muhammadiyah. (a'n)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *