Minggu, 18 Agustus 2019
Home/ Berita/ Rasulullah Sebagai Prototipe Kepemimpinan Terbaik

Rasulullah Sebagai Prototipe Kepemimpinan Terbaik

MUHAMMADIYAH.ID, SLEMAN — Lincolin Arsyad, ketua Majelis Pendidikan Tinggi (Dikti) PP Muhammadiyah mengajak semua pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) meneladani sifat Rasulullah Muhammad SAW dalam menjalankan roda kepemimpinannya.

”Kita selalu bercita-cita PTM menjadi pemain utama, bukan hanya sekedar ada. Tapi keberadaanya disadari orang banyak. Maka diperlukan pemimpin yang hadir dan terlatih. Tipe pemimpin ada yang terlahir sudah memiliki karakter kepemimpinan dan pemimpin yang hadir dari latihan dan tempaan,”ungkapnya dalam acara Leadership Traning PTM ke-4 pada (15/7) di Jayakarta Hotel, Sleman.

Mengutip pepatah Arab klasik ‘Kalian akan dipimpin oleh orang seperti kalian’, Lincolinmengungkapkan bahwa seorang pemimpin merupakan hasil dari tempaan lingkungannya berasal. Maka cermin dari seorang rakyat adalah pemimpinnya, begitu juga sebaliknya. Keduanya berperan dalam meningkatkan kesejahteraan, pemimpin bertugas mengangkat yang dibawahnya sehingga kualitas pemimpinnya juga akan meningkat.

Selanjutnya, Lin mengajak peserta untuk merenungi empat sifat Rasul yaitu Sidiq, Tabligh, Fatonah, dan Amanah. Menurutnya, perlu untuk merefleksi empat karakter atau sifat rasul tersebut kedalam kehidupan.

“Sidiq jika dibahasakan kedalam bahasa modern saat ini adalah integritas. Integritas itu luas bukan hanya sekedar jujur, tetapi juga tidak melakukan nepotisme,”ucapnya.

Saat ini langkah mencari pemimpin yang memiliki integritas, terlebih dilevel nasional. Jika terlalu jauh melihat rasulullah untuk dijadikan prototipe pemimpin, maka sebagai anak bangsa tidak salah mejadikan tokoh-tokoh bangsa terdahulu yang berhasil membawa Indonesia menjadi negara yang mandiri dan disegani untuk dijadikan idola.

Mengupayakan menuju Good Goverment (GG), integritas menjadi hal pokok. GG menurut Lin, lahir berawal dari gejolak gelombang yang mengombang-ambingkan negara berkembang yang tertekan hutang. Sehingga membuat negara tersebut terjadi mis-management. Sementara, Implementasi integritas dalam dunia akademik bisa diwujudkan dengan menerapkan proses belajar-mengajar yang menarik dan tidak memiliki tendensi kecurangan.

“Menjadi tugas kita untuk bukan hanya mengurangi, bahkan harus menghilangkan perilaku-perilaku aneticalisme dan plagiarisme. Seperti kecurangan dalam akademik,”tambahnya.

Muhammadiyah sebagai organsiasi Islam dalam mencapai cita-cita yang diinginkannya juga merefleksi dari sikap dan sifat yang diteladankan oleh Rasulullah. Refleksi tersebut dituangkan kedalam beberapa kebijakan dan putusan dari organisasi ini.

Kemudian sebagai seorang pemimpin juga harus memiliki sifat tabligh, dalam istilah sederhana tabligh sering diartikan sebagai ceramah. Tabligh juga bisa diartikan sebagai kemampuan dalam berkomunikasi, karena soerang pemimpian harus mampu berkomunikasi dengan baik. Bukan hanya komunikasi lisan, melainkan juga tulisan.

“Karena seorang pemimpin tugasnya bukan hanya menjelaskan, tapi juga mempengaruhi anak buahnya. Dengan retorikanya, logikanya. Selain itu juga pemimpin harus mampu ‘merayu’,”urai Lin.

Selain itu, juga ada fathonah yang artinya cerdas. Sebagai pemimpin sifat fathonah diimplementasikan sebagai suatu langkah strategis dalam pegambilan keputusan, yang terkadang keputusan tersebut diputuskan dalam waktu yang singkat. Selanjutnya adalah amanah, sifat yang harus diselaraskan dalam menjalankan kepemimpian. Amanah sendiri bisa diartikan sebagai akuntabilitas, karena sebagai pemimpian harus bertanggunjawab atas yang dipimpinnya. Lin juga berpesan, sebagai pemimpin harus terus belajar dan membaca dijadikan sebagai kebiasaan. Serta meneladani sikap dan sifat yang diteladankan oleh Rasulullah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *