Kamis, 19 September 2019
Home/ Berita/ Menguliti Tiga Teori Pengetahuan Islam

Menguliti Tiga Teori Pengetahuan Islam

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA — Sering disebut Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, penjelasan mengenai Bayani, Burhani, dan Irfani. Sebelum lebih jauh menjelaskan tentang tiga teori pengetahuan (epistemologi) Islam yang sering disebut oleh Ketum Haedar Nashir saat berpidato ini, ada baiknya mengetahui episteomologi itu sendiri.

Menurut bahasa, epistemologi berasal dari bahasa Yunani. Episteme artinya pengetahuan dan Logos artinya diskursus. Diksi ini merupakan cabag dari filsafat yang berkaitan dengan pengetahuan. Epistemologi sendiri mempelajari tentang hakikat dari pengetahuan, justifikasi, serta rasionalitas keyakinan.

Selain epistemologi Islam, setidaknya peradaban besar lain seperti Barat dan Hindu juga memiliki epistemologinya sendiri. Dalam kajian epistemologi Barat, dikenal tiga aliran pemikiran, yakni empirisme, rasionalisme dan intuitisme. Sementara dalam aliran filsafat Hindu, kebenaran bisa didapatkan dari tiga macam, yakni teks suci, akal dan pengalaman pribadi.

Adanya epistemologi berbasis agama, merupakan upaya perujukan kembali antara ilmu pengetahuan dan agama yang telah lama bercerai. Usaha ini merupakan koreksi atas anggapan bahwa kedua entitas ini terpisah dan tidak dapat disatukan. Dalam epistemologi Islam terdapat tiga model system berpikir yang digagas oleh M. Abid Al-Jabiry. Berikut penjelasan singkatnya.

Bayani, metode yang didasarkan pada otoritas teks (nash) guna menemukan atau mendapatkan makna yang dikandung didalamnya. Pendekatan ini digunakan untuk mengeluarkan zahir dari lafazh dan ibrah yang zhahir. Pendekatan Bayani ini telah banyak digunakan oleh para fuqaha’, mutallimin, dan ushuliyyun. Karena memakai pendekatan teks, maka diperlukan transmisi teks dari generasi ke generasi.

Dalam mendapat pengetahuan dari teks, maka jalan yang ditempuh menuju kebenaran adalah dengan berpegang pada teks dengan mengunakan kaidah bahasa Arab, seperti nahw dan sharaf, penguasaan terhadp nahw dan sharaf penting, karena teks yang dikaji adalah al Qu’ran dan Hadist.

Burhani atau pendekatan rasional argumentatif adalah pendekatan yang mendasarkan pada kekuatan rasio melalui instrumen logika (induksi, deduksi, abduksi, simbolik, proses, dll). Pendekatan ini menjadikan realitas dan teks terdapat hubungan antara keduanya sebagai sumber kajian. Realitas yang dimaksud mencakup realitas alam (kawniyyah), realitas sejarah (tarikhiyyah), realitas sosial (ijtima’iyyah) dan realitas budaya (tsaqafiyyah).

Pendekata teks dan realitas (konteks) berada dalam satu wilayah yang saling memengaruhi. Teks tidak berdiri sendiri, Ia saling terikat dengan konteks yang mengelilingi dan mengadakannya sekaligus dari mana teks itu dibaca dan ditafsirkan. Al Farabi mempersyaratkan bahwa premis burhani harus merupakan premis yang benar, primer dan diperlukan.

Selanjutnya, irfani adalah pedekatan pemahaman yang bertumpu pada instrumen pengalaman batin, dzawaq (kehadiran hati dengan mengingat Allah tersu-menerus), qalb (hati), wijdan (ungkapan lisan dari perasaan), bashirah (kekuatan manusia yang mampu menggerakkan jasmani dan ruhani)dan intuisi.

Adapun metode yang digunakan meliputi manhaj kasyfi (sanubari) dan manhaj iktisyafi. Manhaj kasyfi, manhaj ini tidak menggunkan indra atau akal, tapi melalui mujahadah dan riyadlah. Manhaj iktisyafi disebut juga al mumtasilah (analogi), yaitu menyingkap dan menemukan rahasia pengetahuan melalui analogi. (A'n)

Sumber :

  1. Enslikopedi Muhammadiyah
  2. Catatan Pribadi Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *