Minggu, 17 Februari 2019
Home/ Berita/ Haedar: Ta’awun Merupakan Ajaran Inklusinya Agama Islam

Haedar: Ta’awun Merupakan Ajaran Inklusinya Agama Islam

MUHAMMADIYAH.ID, GRESIK – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir hadiri milad 106 tahun Muhammadiyah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gresik pada Ahad (20/1) bertempat di lapangan SMA Muhammadiyah 10 GKB Gresik.

Dalam tausyiahnya Haedar menuturkan bahwa makna dari ta’awun untuk negeri yang menjadi tema milad Muhammadiyah ke 106 telah dipraktekkan Muhammadiyah dalam aksi nyata. Diantaranya yakni sumbangsih yang telah diberikan Muhammadiyah kepada suku Kokoda yang berada di Papua Barat, dan juga pendirian amal usaha Muhammadiyah dalam bidang pendidikan, khususnya Perguruan Tinggi di Indonesia Bagian Timur.

“Kalau kita berta’awun, nilai berkahnya akan kembali kepada kita, spirit ta’awun harus dipraktekkan dengan siapa pun tanpa pandang bulu. Karena pada dasarnya, ta’awun merupakan ajaran inklusinya agama Islam,” jelas Haedar.

Dalam kesempatan itu Haedar juga menuturkan bahwa tugas persyarikatan sesungguhnya mulia, tetapi berat.

“Karena kita di Muhammadiyah harus menjadi pelaku dakwah, mengajak pada Islam, mengajak pada segala macam kebaikan di muka bumi ini, kemudian mencegah dari yang munkar,” ungkap Haedar.

Haedar menegaskan, amar makruf nahi munkar itu sama susahnya, sehingga jangan membanding-bandingkan.

Di saat tertentu, amar makruf yang mungkin parsial lebih mudah, tapi ketika nahi munkar yang struktural lebih susah.

“Tapi bisa juga dibalik. Ketika nahi munkarnya hal yang kecil, melarang orang buang sampah di sembarangan itu kan mudah. Tapi ketika amar makruf yang bersifat struktural, menegakkan kebaikan dalam sistem ketatanegaraan misalkan, itu kan tidak gampang,” jelas Haedar.

Haedar juga menyampaikan tugas warga Muhammadiyah untuk terus membesarkan dan membangun Muhammadiyah itu.

“Hanya orang-orang yang punya kesadaran ilmu, kesadaran iman, dan kesadaran rasional yang mampu untuk membesarkan Muhammadiyah,” terang Haedar.

Dalam membesarkan Muhammadiyah, tujuan akhirnya adalah menjadi orang-orang yang beruntung.

“Maka seluruh yang kita kerjakan untuk Muhammadiyah, insyaallah membawa pada amal saleh dan pahala kita di yaumul akhir. Dan itulah etos Muhammadiyah,” pungkas Haedar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *