Senin, 19 November 2018
Home/ Berita/ UNIMUS Dorong Kampanye Pilpres Aman dan Damai

UNIMUS Dorong Kampanye Pilpres Aman dan Damai

MUHAMMADIYAH.OR.ID, SEMARANG - Menjaga kesolidan bangsa di tahun-tahun politik, Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) selenggarakan Dialog Interaktif bertema “Membangun Karakterk Bangsa, Mencegah Perpecahan NKRI Menuju Pemilu 2019 Aman dan Damai” pada Kamis (11/10) di Patra Semarang Hotel and Convention.

Bangsa ini harus bisa menghindari perpecahan serta mampu andil dalam menciptakan pemilu  yang bermarta bat. Maka seharusnya di tahun politik, masyarakat bukan hanya berperan sebatas dibilik Tempat Pemungutan Suara (TPS).

“Bukan hanya memberikan suaranya, tetapi harus turut mengawal pelaksanaan pemilu,” ujar Masrukhi.

Indonesia dengan multikultular dan ke-bhineka­-an yang melimpah, maka dibutuhkan satu pedoman yang bisa menyatukan. Pancasila sebagai landasan bangsa merupakan kesepakatan bersama sebagai pemersatu.

 “Pancasila menjadi titik temu dan titik tuju Indonesia,” tambahnya.

Acara tersebut menghadirkan Rozikhan, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Fadlolan Musyaffa’, Pimpinan Wilayah NahdlatulUlamaJawa Tengah, serta M. Fajar, Ketua Bawaslu Provinsi Jawa Tengah.

Rozikhan menyampaikan tentang keberagaman dalam Islam, perbedaan dalam Islam adalah sebuah kepastian. Namun demikian perbedaan bukan jadikan alasan berpecah-belah dan jurang pemisah sesama. Ia memberikan tips dan cara untuk mensikapi perbedaan yang ada.

 “Sebagai kepastian, keberagamaan bisa disikapi dengan tidak superior, tidak memaksakan kehendak, tolong menolong dalam kebaikan, komunikasi yang beradab, serta saling menghargai dan menghormati,” ungkapnya.

“Cara tersebut bisa diimplementasikan oleh segenap bangsa Indonesia dalam menyongsong pemilu damai,” imbuhnya.

Sementara, Fadlolan Musyaffamenerangkan bahwa pemilu damai tidak bisa dilakukan hanya sepihak. Melainkan masyarakat juga harus merasa memiliki tanggungjawab untuk terselenggaranya pemilu damai.

“Jangan golput, karena golput adalah orang yang tidak memiliki tanggungjawab sebagai warga negara,” terang Fadlolan.

Pada sesi terakhir ketua Bawaslu Jateng memaparkan bahwa kegiatan pemilu adalah upaya untuk merawat Nergara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

 “Pemilu merupakan hak bagi warga negara untuk menentukan masa depan negara,” tutupnya.(A’n/Unimus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *