Senin, 22 Oktober 2018
Home/ Berita/ Museum Muhammadiyah sebagai Horizon Pengetahuan

Museum Muhammadiyah sebagai Horizon Pengetahuan

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA - Himpun jejak sejarah yang berserakan. Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah melalui Majelis Pustaka dan Informasi mulai membangun Museum, yang berlokasi di kompleks terpadu kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan, Jl. Ring Road Selatan, Banguntapan, Tamanan, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Seperti disampaikan Widyastuti, Wakil Ketua MPI PP Muhammadiyah, sebagai organisasi Islam sosial kemasyarakatan yang berusia lebih dari satu abad, Muhammadiyah memiliki sejarah panjang dalam percaturan bangsa Indonesia, mulai dari pra kemerdekaan sampai pasca merdeka.

“Jejak Muhammadiyah yang berupa artefak atau dokumen harus diselamatkan,” ungkapnya saat ditemui pada Rabu (9/10) di kantor PP Muhammadiyah Cik Ditiro Yogyakarta.

Penghimpunan rekam jejak sejarah Muhammadiyah yang berupa artefak, dokumen dan laninya, merupakan gagasan yang telah lama ada dikalangan PP Muhammadiyah. Akan tetapi, pada periode ini baru dapatdirealisasikan.

“Sejauh ini, pembangunan museum sudah mencapai 25%,” tambah Widyastuti.

Widyastuti juga menyampaikan, pemilihan Yogyakarta sebagai lokasi museum merupakan keputusan yang masuk akal. Selain dari segi historis, dipilihnya Yogyakarta sebagai lokasi pembangunan museum karena Yogyakarta merupakan kota yang mudah diakses, dan menjadi kota tujuan wisata.

Rencananya, museum akan dibangun setinggi 4 lantai. Serta dikonsep berkemajuan, memiliki tampilan yang modern didukung dengan Teknologi dan Informasi (IT).

“Gedung museum akan terdiri 4 lantai. Serta museum didesign inklusi, dan memiliki tampilan modern,” jelasnya.

Museum ini menjadi satu-satunya museum di Indonesia yang menceritakan tentang narasi sejarah Ormas Islam (Muhammadiyah) secara utuh. Diharapkan dengan adanya museum ini bisa menjadi sumber informasi kesejarahan organisasi Muhammadiyah. Serta menjadi horizon pengetahuan yang bisa diakses oleh generasi selanjutnya.

Kedepan, museum ini akan diintegrasi dengan kampus, Masjid, dan akan dibangun juga hutan kota. Sehingga menambah lokasi daya tarik wisata baru di Yogyakarta.

“Dengan design inklusi, museum bisa diakses oleh semua orang. Baik yang difabel, anak-anak, maupun perempuan,” tutup Widyawati.(A’n)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *