Senin, 19 November 2018
Home/ Berita/ Wujudkan Pendidikan Inklusif, Mahasiswa Baru STKIP Muhammadiyah Kalabahi Mayoritas Non Muslim

Wujudkan Pendidikan Inklusif, Mahasiswa Baru STKIP Muhammadiyah Kalabahi Mayoritas Non Muslim

MUHAMMADIYAH. OR. ID, ALOR- STKIP Muhammadiyah Kalabahi pada periode akademik 2018/2019 menerima sekitar 50 Mahasiswa Baru (Maba). Yang menarik, sebagian besar mahasiswa baru tersebut beragama non Islam (Kristen dan Khatolik).
 
Dalam sambutannya mewakili Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Alor Ishak Djawa menyampaikan bahwa kiprah Muhammadiyah dalam dunia pendidikan sudah sangat tua.  Termasuk di Kabupaten Alor Muhammadiyah sudah melahirkan banyak sekali lulusan Perguruan Tinggi.
 
“Tidak perlu khawatir untuk masuk sekolah bahkan Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Karena Muhammadiyah ingin menjadi bagian dari lembaga yang memberikan andil dalam lahirnya generasi-generasi pembaharu,” ungkap Ishak dalam Pembukaan Kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus seperti dikutip dalam website suaramuhammadiyah.id pada Jumat (17/8).
 
Urusan agama, menurutnya, adalah hak asasi yang tidak bisa dipaksakan, sehingga dalam hal mata kuliah Agama maka kebijakan kampus adalah mendatangkan dosen pendidikan Agama Kristen.
 
Pada kesempatan berikutnya, Yakin A Asikin selaku BAAK mewakili Pimpinan STKIP Muhammadiyah Kalabahi menyampaikan bahwa dengan memilihnya STKIP Muhammadiyah Kalabahi sebagai tempat belajar maka hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah menata niat.
 
“Apa yang ingin dicari di STKIP Muhammadiyah Kalabahi”, begitu beliau memulai sambutannya.  Sebagai alumni pondok pesantren Modern Gontor, dengan meminjam slogan almamaternya ingin memberikan semangat kepada para mahasiswa baru untuk fokus terhadap niat dan tujuan perkuliahannya.
 
“Tetap fokus karena anda telah memilih STKIP Muhammadiyah Kalabahi sebagai tempat selanjutnya untuk mengembangkan kepribadian anda.  Sibukkan diri anda untuk menjadi bagian dari Catur Darma Perguruan Tinggi Muhammadiyah (Pendidikan, Penelitian, Pengambdian Masyarakat dan al-Islam Kemuhammadiyahan),” urai Yakin.
 
Di tempat terpisah, tiga orang mahasiswa non muslim dipilih untuk memberikan testimoni.  Mereka adalah Yosefina Mai (Khatolik), Filarius Kamaleng (Khatolik) dan Ellen Mamai (Kristen).  Pada initinya mereka menyampaikan tidak ada sedikitpun ketakutan dalam diri mereka ketika masuk dalam kampus Muhammadiyah.
 
Hal tersebut karena sudah ada generasi sebelumnya dari mereka yang sudah lebih dulu belajar di kampus Muhammadiyah.  Bahkan, ibu dari salah seorang mahasiswa tersebut adalah merupakan lulusan dari kampus Muhammadiyah.
 
“Bagi saya tidak ada masalah tentang kebebasan beragama ketika bergabung dalam lembaga Muhammadiyah.  Saya adalah lulusan dari SMA Muhammadiyah, maka saya ingin sampaikan kepada teman-teman yang lain bahwa Muhammadiyah tetap menghargai kebebasan kita dalam beragama,” kata Ellen.
 
Sumber: SM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *