Kamis, 13 Desember 2018
Home/ Berita/ Seruan dan Imbauan kepada Muballigh dan Masjid Muhammadiyah Terkait Bencana di Lombok

Seruan dan Imbauan kepada Muballigh dan Masjid Muhammadiyah Terkait Bencana di Lombok

Qadarullâh wa mâ syâ’a fa’ala,terjadinya gempa bumi tektonik di wilayahNusa Tenggara Barat dan sekitarnya pada hari Ahad, 29 Juli 2018, pkl 06.47.39 WIT (6.4 Skala Richter ) dan pada hari Ahad, 5 Agustus 2018, Pkl. 19.46 WIT (7 Skala Richter) telah mengakibatkan jatuhnya ratusan korban jiwa, kerusakan rumah-rumah penduduk, sejumlah fasilitas infrastrukur, bangunan-bangunan masjid, sekolah, dan lain-lain.

Sehubungan dengan musibah tersebut, Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan himbauan sebagai berikut :

1. Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan seluruh muballigh/da’i di seluruh Indonesia dan di Luar Negeri menyampaikan keprihatinan dan rasa duka yang mendalam kepada masyarakat yang terdampak. Terkhusus bagi yang wafat dalam peristiwa tersebut kami berdo’a semoga Allah Ta’ala memuliakan mereka di SisiNya, serta keluarga yang ditingkalkan dianugerahkan kekuatan jiwa, raga, dan kesabaran yang baik. Âmîn yâ Rabb al-‘Âlamîn.

2. Menyeru kepada seluruh masyarakat dan bangsa Indonesia, khususnya kaum muslimin untuk membangun cara pandang yang positif (husnudhann) dan cara bersikap yang benar (husnul mawqif) terhadap peristiwa alam dan masalah kebencanaan. Letak geografis nusantara yang sangat strategis telah menjadikannya sebagai pusat peradaban, tetapi sekaligus juga mengandung potensi alamiah yang membahayakan dan menghancurkan. Potensi gempa bumi, tsunami, badai, gunung berapi, banjir, hingga tanah longsor adalah sisi lain tak terpisahkan dari kesuburan, kemakmuran, dan posisi strategis yang dimiliki negeri ini. Indonesia terletak di kawasan pertemuan tiga lempengan bumi, yaitu Eurasia, Pasifik, dan Indo-Australia. Juga terletak di daerah sabuk api (ring of fire) di mana terdapat 187 gunung api berderet dari barat ke timur.

Di samping faktor alam tersebut, kompleksitas kondisi masyarakat Indonesia dari segi demografis (kepadatan penduduk), dan dari segi ekonomi (angka kemiskinan yang masih tinggi), telah menambah tingginya kerentanan terhadap peristiwa bencana alam. Saat ini, Indonesia menempati rangking pertama resiko tsunami (dari 265 negara) dan resiko longsor (dari 162 negara) serta rangking ke-3 dari 153 negara terhadap resiko gempa bumi, dan rangking ke-6 dari 162 negara untuk resiko bencana banjir.

Berangkat dari fakta tersebut, peristiwa bencana alam seperti gempa bumi yang terjadi saat ini tidak serta merta dituding dan dipahami sebagai wujud kemurkaan dan adzab Allah Ta’ala, terlebih dijadikan sebagai komoditas politik rendahan. Bahkan dapat dipahami bahwa bencana merupakan bentuk kebaikan dan kasih sayang (rahmah) Allah Ta’ala kepada hamba-hambaNya, yakni sebagai media untuk introspeksi seluruh perbuatan manusia yang mendatangkan peristiwa yang merugikan manusia itu sendiri. Meskipun harus diakui pula bahwa terdapat bencana yang yang terkait dengan perilaku manusia. Umumnya terjadi akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh eksploitasi manusia yang berlebihan terhadap alam dan diri mereka sendiri. Dalam ajaran Islam, kerusakan yang terjadi di muka bumi ini diyakini sebagai akibat kesalahan tindakan manusia dalam menjalankan fungsi kekhlifahannya. Kesalahan tindakan manusia tetjadi karena yang bersangkutan tidak mampu mengendalikan dan menyeimbangkan hak, kewajiban, dan fungsinya sebagai hamba dan khalifahNya.

Karenanya, Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyerukan sikap yang positif terhadap bencana sebagai berikut : (a) tetap teguh dan sabar, yang secara qalbiyah diwujudkan dengan sikap ridla dan kokoh meyakini bahwa seluruh peristiwa adalah berdasarkan qudrah dan iradahNya. Secara lisan hendaknya selalu ber-istirja’ dengan ucapan tulus “innâ lillâh wa innâ ilaihi râji’ûn”, yang kemudian secara amaliah yang dikongkretkan dengan berbagai usaha untuk menuju kebaikan setelah bencana terjadi; dan usaha membuat kebaikan-kebaikan jauh sebelum musibah keburukan terjadi; dan (b) tetap bersyukur. Menyikapi bencana dengan dengan positive thinking & feeling akan kebaikan dan hikmah di balik setiap peristiwa; (c) istiqamah menjalankan segala kewajiban keagamaan di lokasi bencana serta mengokohkan solidaritas sosial dan saling tolong-menolong (ta’awun); dan (d) meninggalkan berbagai sikap dan prilaku negatif seperti murka terhadap bancana (taskhkhuth), dan prasangka yang tidak baik (su’udzann) baik secara vertikal kepada Allah, maupun secara horizontal sesama manusia dan kepada alam/lingkungan sekitar.

3. Menghimbau kepada seluruh khatib/muballigh Muhammadiyah untuk menyampaikan khutbah Jum’at terkait bencana alam dan sikap saling tolong-menolong dengan materi yang mencerahkan, menggerakkan, dan sekaligus mengggembirakan. Mohon merujuk kepada buku Fikih Kebencanaan yang telah diterbitkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah (https://tarjih.or.id/)

4. Menghimbau kepada seluruh pengurus Takmir Masjid Muhammadiyah menggalakkan dan menggerakkan pengumpulan infaq dan shadaqah khususnya pada hari Jum’at dan pada berbagai pertemuan/pengajian Majelis Ta’lim di internal Persyarikatan Muhammadiyah untuk disalurkan kepada korban bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Barat melalui jaringan Lazismu di Wilayah, Daerah, Cabang, dan Rantingnya masing-masing.

 

Download imbauan lengakpnya di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *