Selasa, 16 Oktober 2018
Home/ Berita/ Sikapi Bencana Lombok, Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Serukan Masyarakat untuk Membangun Cara Pandang yang Positif

Sikapi Bencana Lombok, Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Serukan Masyarakat untuk Membangun Cara Pandang yang Positif

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA -Terjadinya gempa bumi tektonik di wilayahNusa Tenggara Barat dan sekitarnya pada hari Ahad, (29/7) dan Ahad, (5/8) telah mengakibatkan jatuhnya ratusan korban jiwa, kerusakan rumah-rumah penduduk, sejumlah fasilitas infrastrukur, bangunan-bangunan masjid, sekolah, dan lain-lain.

Sehubungan dengan musibah tersebut, Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal menyeru kepada seluruh masyarakat dan bangsa Indonesia, khususnya kaum muslimin untuk membangun cara pandang yang positif (husnudhann) dan cara bersikap yang benar (husnul mawqif) terhadap peristiwa alam dan masalah kebencanaan.

“Potensi gempa bumi, tsunami, badai, gunung berapi, banjir, hingga tanah longsor adalah sisi lain tak terpisahkan dari kesuburan, kemakmuran, dan posisi strategis yang dimiliki negeri ini. Indonesia terletak di kawasan pertemuan tiga lempengan bumi, yaitu Eurasia, Pasifik, dan Indo-Australia. Juga terletak di daerah sabuk api (ring of fire) di mana terdapat 187 gunung api berderet dari barat ke timur,” jelas Fathurrahman seperti dikutip dalam siran pers yang diterima redaksi pada Kamis (9/8).

Di samping faktor alam tersebut, kompleksitas kondisi masyarakat Indonesia dari segi demografis (kepadatan penduduk), dan dari segi ekonomi (angka kemiskinan yang masih tinggi), telah menambah tingginya kerentanan terhadap peristiwa bencana alam. Saat ini, Indonesia menempati rangking pertama resiko tsunami (dari 265 negara) dan resiko longsor (dari 162 negara) serta rangking ke-3 dari 153 negara terhadap resiko gempa bumi, dan rangking ke-6 dari 162 negara untuk resiko bencana banjir.

“Berangkat dari fakta tersebut, peristiwa bencana alam seperti gempa bumi yang terjadi saat ini tidak serta merta dituding dan dipahami sebagai wujud kemurkaan dan adzab Allah Ta’ala, terlebih dijadikan sebagai komoditas politik rendahan,” tegas Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini.

Bahkan dapat dipahami bahwa bencana merupakan bentuk kebaikan dan kasih sayang (rahmah) Allah Ta’ala kepada hamba-hambaNya, yakni sebagai media untuk introspeksi seluruh perbuatan manusia yang mendatangkan peristiwa yang merugikan manusia itu sendiri.

“Meskipun harus diakui pula bahwa terdapat bencana yang yang terkait dengan perilaku manusia. Umumnya terjadi akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh eksploitasi manusia yang berlebihan terhadap alam dan diri mereka sendiri,” jelas Fathurrahman.

Sementara, dalam ajaran Islam, kerusakan yang terjadi di muka bumi ini diyakini sebagai akibat kesalahan tindakan manusia dalam menjalankan fungsi kekhlifahannya.

“Kesalahan tindakan manusia tetjadi karena yang bersangkutan tidak mampu mengendalikan dan menyeimbangkan hak, kewajiban, dan fungsinya sebagai hamba dan khalifahNya,” imbuh Fathurrahman.

Oleh karena itu, Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyerukan sikap yang positif terhadap bencana sebagai berikut : (a) tetap teguh dan sabar, yang secara qalbiyah diwujudkan dengan sikap ridla dan kokoh meyakini bahwa seluruh peristiwa adalah berdasarkan qudrah dan iradahNya. Secara lisan hendaknya selalu ber-istirja’ dengan ucapan tulus “innâ lillâh wa innâ ilaihi râji’ûn”, yang kemudian secara amaliah yang dikongkretkan dengan berbagai usaha untuk menuju kebaikan setelah bencana terjadi; dan usaha membuat kebaikan-kebaikan jauh sebelum musibah keburukan terjadi; dan (b) tetap bersyukur. Menyikapi bencana dengan dengan positive thinking & feeling akan kebaikan dan hikmah di balik setiap peristiwa; (c) istiqamah menjalankan segala kewajiban keagamaan di lokasi bencana serta mengokohkan solidaritas sosial dan saling tolong-menolong (ta’awun); dan (d) meninggalkan berbagai sikap dan prilaku negatif seperti murka terhadap bancana (taskhkhuth), dan prasangka yang tidak baik (su’udzann) baik secara vertikal kepada Allah, maupun secara horizontal sesama manusia dan kepada alam/lingkungan sekitar.

 

Sumber Foto: MDMC

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *