Selasa, 18 Desember 2018
Home/ Berita/ Mu'ti: Pemimpin Terbaik Adalah yang Melayani, Bukan Minta Dilayani

Mu'ti: Pemimpin Terbaik Adalah yang Melayani, Bukan Minta Dilayani

MUHAMMADIYAH. OR. IDJAKARTA- Membawa tema “Kepemimpinan yang Melayani”, Pimpinan Pusat Muhammadiyah kembali mengadakan pengajian bulanan di Aula KH Ahmad Dahlan Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jum’at (13/4) malam. 
 
Membuka Pengajian Bulanan, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti mengungkapkan bahwa pengajian kali ini terasa spesial karena tiga narasumber seluruhnya adalah perempuan, yakni Ketua Pimpinan Pusat 'Aisyiyah Masyitoh Chusnan, dan Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany.
 
Dipilihnya narasumber perempuan untuk berbicara mengenai kepemimpinan, menurut Mu’ti disebabkan saat ini ada fenomena menarik dalam konteks keIndonesiaan dan dunia Islam. 
 
“Kalau kita cermati saat ini banyak kepala daerah kita yang perempuan dan berprestasi. Menjadi pertanyaan kenapa kepala daerah yang perempuan masih cukup sedikit, walaupun secara statistik pemilih lebih banyak adalah perempuan,” ujar Mu’ti.
 
Mu’ti menjelaskan jika dipandang dari sudut pandang politik dan agama, fenomena ini menarik karena di tengah masyarakat, banyak pandangan yang tidak tepat dengan menempatkan perempuan dalam posisi tabu sebagai pemimpin.
 
“Dalil yang sering dipakai adalah ar rijalu qawamuna minan nisaa’. Ini sering dipahami mengenai kepemimpinan. Tetapi ketika kita membaca tafsir, qawamuna diartikan sebagai kompetensi. Jika kita menggunakan pendekatan semantik dan tafsir, rojul lebih menunjukkan pada kata sifat yaitu kemampuan daripada jenis kelamin, sebab untuk kelamin sebagai kata benda, yang digunakan untuk laki-laki adalah dzakar,” jelas Mu’ti.
 
Menurut Mu’ti, setidaknya ada tiga makna yang bisa diambil dari fenomena pemimpin perempuan. Pertama, umat sudah berubah menerima dalil-dalil kepemimpinan dengan memahaminya pada kemampuan atau ahliyah daripada jenis kelamin, kecuali dalam konteks ibadah mahdhah. Kedua, ada realitas bahwa pendidikan perempuan sudah mencapai tingkat yang sangat baik sehingga outputnya adalah perempuan yang berkualitas. Ketiga, menurut Mu’ti adalah realitas politik yang memberikan ruang.
 
“Dalam konteks negara-negara Islam, ada pemimpin negara perempuan di Pakistan, Bangladesh, dan juga Indonesia. Di Eropa, kita kenal perempuan hebat seperti Margaret Thatcher dan Angela Merkel,” imbuh Mu’ti.
 
“Tradisi itu pemimpin harus hadir, melayani. Dalam hadist, Rasulullah menyebut bahwa pemimpin terbaik adalah yang melayani, bukan minta dilayani. Kita pernah memiliki Pak AR Fahruddin. Maka tema ini adalah usaha untuk menjadikan kita bangsa yang pemimpinnya bisa melayani masyarakat,” pungkas Mu’ti. (afandi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *