Selasa, 25 September 2018
Home/ Berita/ Mendidik Muslim Millenial Berkemajuan

Mendidik Muslim Millenial Berkemajuan

Mendidik Muslim Millenial Berkemajuan

“Muslim Millnenial Berkemajuan Adalah Generasi Pelopor Yang Unggul dan Modern ”

Oleh Syamsuhadi Irsyad

Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Warisan Melampaui  Zaman

Muhammadiyah lahir sebagai gerakan pencerahan bukanlah di mulai hari ini, tetapi Muhammadiyah telah memulai sejak Kyai Ahmad Dahlan melakukan pelurusan arah kiblat.Dakwah Muhammadiyah hadir dengan sumber ajaran Al-Quran dan hadist dengan mengembangkan ijtihad berbagai bidang kehidupan yang  merupakan aktualisasi darigerakanpencerahan.Sejarah telah membuktikankepeloporannya khususnya dalam bidang pendidikan, Muhammadiyah telah memberikan sumbangan berharga bagi bangsa ini. Yakni, mampu melahirkan kader bangsa yang beriman, cerdas, berkepribadian, dan maju dalam pikirannya serta mampu menghadapi tantangan dan permasalahan kehidupan di berbagai aspek.

Muhammadiyah mendirikan lembaga pendidikan dilandasi atas motivasi teologis, bahwa manusia akan mampu mencapai derajat keimanan dan ketaqwaan yang sempurna apabila mereka memiliki kedalaman ilmu pengetahuan. Motivasi teologis inilah yang mendorong Kyai Ahmad Dahlan menyelenggarakan pendidikan di emperan rumahnya dan memberikan pelajaran agama ekstrakurikuler di OSVIA dan kweekschoool. (Abdul Mu’ti 2003: 97-107). Berawal dari memberi pelajaran agama islam di Kweekschool, sekolah guru pada zaman penjajahan Belanda yangdiberikan diluar pelajaran-pelajaran yang formal. Kyai Ahmad Dahlan mendirikan sekolah-sekolah yang sebagian mengikuti teknik sekolah - sekolah kursi, meja, kapur dan lain-lain, tetapi diberi juga pelajaran agama.

Pemikiran melampaui zaman, Kyai Ahmad Dahlan juga melahirkan madrasah - madrasah yang merupakan modernisasi dari pesantren - pesantren yang telah ada kitab - kitab, metode mengajarnya, latihan dan ujian diambil dari sekolah model barat. Menurut Kuntowijoyo, gagasan pendidikan yang dipelopori Kyai Dahlan, merupakan pembaruan karena mampu mengintegrasikan aspek iman dan kemajuan, sehingga dihasilkan sosok generasi muslim terpelajar yang mampu hidup di zaman modern tanpa terpecah kepribadiannya (Kuntowijoyo, 1985: 36). Lembaga pendidikan Islam modern bahkan menjadi ciri utama kelahiran dan perkembangan Muhammadiyah, yang membedakannya dari lembaga pondok pesantren kala itu.

Warisan yang ditinggalkan oleh Kyai Ahmad Dahlan merupakan warisan pemikiran dan gerakan pembaharuan pendidikan modern yang  memadukan antara pendidikan Barat yang hanya mengajarkan “ilmu-ilmu umum” dan pendidikan Islam yang hanya mengajarkan “ilmu - ilmu agama”. Gagasan Muhammadiyah di dalamnya sudah termasuk gagasan pembaharuan di bidang pendidikan untuk menyatukan keduanya antara ilmu agama dan ilmu umum. Hal inilah yang mendasari Muhammadiyah sampai hari ini terus berkembang.

Perhatian dan komitmen Muhammadiyah dalam bidang pendidikan tidak pernah surut. Hal ini terdapat  pada  keputusan Muktamar 43 di Banda  Aceh di dalam program pendidikan. Salah satu poinnya yaitu pengembangan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM). Penyelenggaraan pendidikan diorientasikan kepada peningkatan kompetensi lulusan yang elastic dan antisipatif terhadap tuntutan dan kebutuhan masa depan, yang meliputi kompetensi akademik, kompetensi profesional, kompetensi menghadapi perubahan, kompetensi kecendekiaan dan kompetensi iman dan takwa.

Era Generasi Millenial

Di masa modern ini, kita sering mendengar istilah Millennial generation atau generasi Y juga akrab disebut generation me atau echo boomers. Secara harfiah memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi yang satu ini.Mereka yang termasuk dalam angkatan digital olehpara pakar menggolongkannya berdasarkan tahun awal dan akhir. Penggolongan generasi Y terbentuk bagi mereka yang lahir pada 1980 - 1990, atau pada awal 2000, dan seterusnya.

Berdasarkan Infografis Pusat data media Republika, menyebutkan ada sekitar 80 juta millennials lahir pada 1976 – 2001. Dimana para Millennials rata – rata mengalihkan perhatiannya pada PC, smartphone, tablet, dan televisi  27 kali setiap jamnya. Angka ini meningkat dari 17 kali per jam di generasi sebelumnya. Pada urusan bekerja, millennial lebih tertarik memiliki pekerjaan yang bermakna ketimbang sekadar bayaran yang besar. Sedangkan dalam urusan konsumsi hiburan, millennial menghabiskan 18 jam perhari untuk menikmati layanan tontonan on demand, bermain gim, atau sekadar menonton televisi konvensional.

Secara umum generasi millenial memiliki karakter sangat akrab dengan media dan internet. Mereka juga terbuka terhadap ide dan gagasan orang lain. Namun di sisi lain mereka rawan memiliki potensi karakter negatif seperti kurang peka terhadap lingkungan sosial, pola hidup bebas, cenderung bersikap individualistik, kurang realistis, dan kurang bijak dalam menggunakan media. Kondisi ini merupakan tantangan tersendiri bagi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) dalam mendidik generasi millenial.

UMP telah membuktikan diri mampu memberikan bimbingan melalui proses pembelajaran baik melalui kegiatan akademik dan non akademik sehingga mereka menjadi generasi milennial yang berilmu, berkualitas, berkemajuan, dan memberi manfaat bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, negara, dan agama.

Mencetak Muslim Millenial Berkemajuan

Di era disrupsi, kehadiran generasi millenial memiliki peluang untuk membuktikan ke benaran ajaran Islam yang universal.  Sebab perubahan bagi Islam adalah sebuah keniscayaan, dan daya kreativitas adalah cara untuk menyiasati, mengelola dan mengarahkan perubahan yang eksponensial ke arah yang lebih beradab, berbudaya, dan berkemajuan.

Saat ini Indonesia sudah memasuki era millenial, jaringan internet ada di mana-mana. Diperlukan pendekatan khusus untuk mendidik mahasiswa era millenial. Universitas Muhammadiyah Purwokerto menjadi salah satu amal usaha Muhammadiyah yang menetapkan visi Unggul, Moderen dan Islamiyang memiliki tujuan untuk membentuk karakter generasi millenialmuslim berkemajuan. UMP menyadari generasi millenials hanya peduli untuk membanggakan pola hidup kebebasan, hedonisyang juga memiliki visi yang tidak realistis dan terlalu idealistis, yang penting bisa bergaya. Namun hal ini menjadi sebuah tantangan dakwah untuk mendidik paramahasiswabaruuntuk menjadi Muslim millenialberkemajuandi era millenial.

Kampus berkemajuan adalah bentuk nyata penafsiran dari Istilah Islam/Muslim berkemajuan yang di cirikan oleh Muhammdiyah. Muhammadiyah meyakini masyarakat Islam yang sebenar – benarnya dalam pesan Al Quran (QS. Al-i'ImranAyat 110dan QS Al Baqarah ayat 143). Merupakan masyarakat yang di cita – citakan peruwujudan dari umat terbaik yang memiliki posisi dan peran umat tengahan, dan pelaku sejarah dalam kehidupan manusia.

 Istilah “berkemajuan” juga diperkenalkan dalam memberikan ciri tentang masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Dalam Muktamar ke-37 tahun 1968 di Yogyakartadikupas tentang karakter masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Di antara sembilan ciri masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, salah satu cirinya ialah “Masyarakat berkemajuan”, yang ditandai oleh: “(a) Masyarakat Islam ialah masyarakat yang maju dan dinamis, serta dapat menjadi contoh; (b) Masyarakat Islam membina semua sektor kehidupan secara serempak dan teratur/terkoorrdinir; (c) Dalam pelaksanaannya masyarakat itu mengenal pentahapan dan pembagian pekerjaan” (Dr. Haedar Nashir, 2010:341).Karakteristik muslim millenial berkemajuan merupakan istillah yang tepat di gunakan di era millenial untuk menghadapi perkembangan zaman dengan menggunakan  akal pikiran dan ilmu pengetahuan sebagai instrumen kemajuan, sehingga generasi muda millenial akan menjadikan Islam sebagai sumber pedoman kehidupan yang bersifat kontekstual tanpa kehilangan pijakannya pada sumber ajaran sebagaimana dikembangkan oleh Kyai Ahmad Dahlan.

Sejalan dengan visi Unggul, Modern dan Islami yang dimiliki Universitas Muhammadiyah Purwokerto yang merupakan desain untuk melahirkan muslim millenial berkemajuan yang mampu menjadi pelopor perkembangan zaman. Tiga penjelasan Visi besar tersebut antara lain :

  1. Unggul, berarti Universitas memiliki kelebihan-kelebihan berupa keunggulan kompetitif dan komparatif berbasis profesionalisme dalam bidang akademik, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang diakui baik di tingkat nasional, regional, maupun global.
  2. Modern memiliki arti Universitas selalu mengikuti perkembangan terbaru (mutakhir) sesuai dengan tuntutan zaman
  3. Islami memiliki pengertian Universitas menyelenggarakan manajemen dan Catur dharma Perguruan Tinggi berdasarkan prinsip-prinsip dan nilai-nilai Islam

Ketiga visi tersebut memiliki titik tekan pada kata Islami berdasarkan Al – Quran dan hadist. Islami menjadi bingkai ketika memiliki keunggulan dan modern, karakteristik secara lahir dan batin adalah karakteristik yang Islami yang menjadi sebuah ciri khas muslim berkemajuan. Konsepsi muslim millenial berkemajuan yang lahir di Universitas Muhammadiyah Purwokerto merupakan aktualisasi Visi UMP menggunakan pola pendekatan diskusi pencerahan berulang – ulang dan memberikan pemahaman materi sesuai Al – Quran dan hadist. Pembentukan karakter muslim millenial berkemajuan di mulai dari awal masuk traning BEST(Becoming Exellence Student Training)  pada mahasiswa baru, Traning SMART (Softskills Management and Resolution Training), dan akhirnya dengan pelatihan SUCCES (Spiritual Up and Career Competencies Empowering by Softskills) menjelang wisuda. Proses pembentukan karakter ini merupakan proses untuk membentuk kecerdasan intelektual dan kesalehan sosial berbasis agama.

Tahap pembentukan muslim millenial berkemajuan pada mahasiswa di mulai dengan keaktifan mahasiswa di dalam ortom Muhammadiyah yang ada dilingkungan kampus,diantaranya :

  1. Ikatan Mahasiswa Muhammdiyah (IMM) merupakan pintu masuk awal mahasiswa mengenal Muhammdiyah secara umum. IMM dengan pendekatan pengkaderan melalui gerakan Intelektualitas, Religiusitas dan Humanitas merupakan tempat menempa kader muda Muhammadiyah di lingkungan mahasiswa dari jenjang DAD (Darul Arqam Dasar), DAM (Darul Arqam Madya) hingga DAP (Darul Arqam Paripurna).
  2. Hizbul Wathan dijadikan sebagai salah satu wadah pembinaan kader persyarikatan yang efektifsebagai gerakan kepanduan
  3. KOKAM UMP sebagai komandan kesiapsiagaan angkatan muda Muhammadiyah

Sedangkan pembinaan Al Islam dan Kemuhammadiyahan juga menjadi program kaderisasi melahirkan pribadi muslim millenial berkemajuanmelalui berbagai model :

  1. Mentoring, kegiatan pendampingan – pemantauan keberagaman Islamberisi materi keislaman dan kemuhammadiyahan yang berlangsung selama 1 tahun.
  2. MA’HAD Islamy Kesehatan, merupakan program pembinaan ke – Islamanya ekstrakurikuler terstruktur yang wajib diikuti seluruh mahasiswa baru prodi keperawatan dan kebidananan DIII
  3. Materi  Al Islam dan Kemuhammdiyahan  dalam perkuliahaan untuk para mahasiswa
  4. Kuliah kerja nyata (KKN) dengan basis pemberadayaan masjid – masjid Muhammadiyah di tingkat ranting

Model pembinaan dan pengajaran dengan konteks Islam yang Universal sesuai tuntunanRasulullahsangatlah efektif di gunakan untuk menguatkanmahasiswamenjadi generasi muslim millenial  yang sesuai dengan Al Quran dan hadist dalam menghadapi  tantangan di era millenial.(irf/dir)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *