Sabtu, 20 Januari 2018
Home/ Berita/ Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta Teguhkan Kadar Keislaman dan Kemuhammadiyahan Tenaga Pengajar

Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta Teguhkan Kadar Keislaman dan Kemuhammadiyahan Tenaga Pengajar

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA –  Guna memperluas wawasan dan meneguhkan kadar ke-Islaman dan ke-Muhammadiyahan bagi seluruh guru,  pengelola Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan Refreshing Ideologi. Kegiatan ini diselenggarakan pada tanggal 11-12 Januari 2018 bertempat di Hall Center Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta.

Direktur Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta Aly Aulia menyatakan bahwa acara ini relatif penting dan strategis dalam upaya untuk memperluas dan memperdalam pemahaman semua guru terhadap ruh gerakan Muhammadiyah, menghayati serta mengamalkan nilai-nilai ke-Islaman dan mengaplikasikannya sebagai life style atau gaya hidup dalam kehidupan sehari- hari.

Terdapat lima pemateri yang turut menyampaikan pandangan-pandangannya terkait keislaman dan kemuhammadiyahan, diantaranya Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2000-2005 Syafi’i Maarif, Ketua PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas, Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas,  Habib Chirzin, serta Hamim Ilyas.

Dalam pemaparan materinya Busyro Muqoddas mengigatkan para guru tentang pentingnya memahami geo politik dan kondisi bangsa Indonesia. Busyro menyebutkan beberapa data tentang hubungan konglomerasi demokrasi dengan jabatan dan proyek negara. Dalam kondisi ini, negara seperti tanpa hukum dan demokrasi hancur.

Selain itu, Busyro juga mengajak para guru untuk melakukan pembaharuan dalam pendidikan, terutama dengan menyusun kurikulum yang mampu membangkitkan kekritisan para siswa. Para siswa Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah, kata Busyro, harus memiliki akses riset yang setara dan aktual serta diperkaya dengan latihan membuat tafsir atas kondisi sosial politik.

Sementara itu, Buya Syafii Maarif, menekankan para guru Mu’allimin untuk melakukan perubahan paradigma dalam memandang agama sebagai sebuah wahyu atau sebagai sebuah realitas sosio-historis. Islam sebagai agama yang sempurna yang seharusnya mewujudkan rahmatan lil alamin, katanya, sering dibajak oleh kalangan tertentu dan terutama para elit, hanya untuk kepentingan politik praktis dan meraih kekuasaan.

Buya menilai perseteruan dikalangan elit Arab yang kemudian diwariskan ke seluruh dunia seolah menjadi bagian dari Islam.

“Persoalan kita bukan di hilir, tapi di hulu,” katanya. Oleh karena itu, Buya Syafii, menginginkan para santri Mu’allimin diberikan pemahaman yang mendalam dan luas terkait dengan kondisi sesungguhnya.

Pesan lainnya, Buya Syafii, menyarankan para santri untuk diajarkan kewirausahaan. “Selama kita tidak mampu menjinakkan uang, selama itu pula kita akan tertinggal,” ujarnya.

Buya menyebut tentang kondisi negara yang dikuasai oleh segelintir pemilik modal. “Anak-anak Mu’allimin harus diarahkan untuk merebut ekonomi. Sekedar marah-marah, teriak-teriak, tidak cukup,” kata alumni Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta tahun 1956 itu.

Habib Chirzin dalam kesempatan itu menegaskan bahwa secara historis, eksistensi Mu’allimin sangatlah penting dan strategis dalam perspektif ke-Muhammadiyahan dan ke-Indonesiaan. Sejarah besar negeri ini tidak bisa dilepaskan dari perjuangan dan gerakan Muhammadiyah. Dan salah unsur utama Muhammadiyah adalah Madrasah Mu’allimin.

Habib berharap acara ini akan mampu berefek positif bagi para guru/asatidz dalam hal penanaman nilai, sikap, serta perilaku dan mentransformasikannya kepada para anak didik.

Sementara itu, Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) PP Muhammadiyah, Hamim Ilyas, menjabarkan tentang manhaj Tarjih dan fatwa-fatwa kontemporer di Muhammadiyah. Menurutnya, manhaj tarjih merupakan bagian dari manhaj gerakan Muhammadiyah yang terdiri dari seperangkat ideologi, khittah, dan langkah Muhammadiyah sebagi gerakan Islam, dakwah amar makruf dan nahi mungkar.

“Manhaj Tarjih Muhammadiyah merupakan sistem pemikiran Islam aliran pembaharuan berkemajuan yang berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah shahihah, yang terbuka terhadap perubahan, perkembangan, dan perbedaan,” jelas Hamim.

Menurut Hamim, paradigma yang dibangun oleh Islam dalam pandangan Muhammadiyah adalah menjadikan manusia hidup dalam kebaikan, guna menggapai kehidupan manusia yang bahagia di dunia dan akhirat.

“Oleh karena itu, Islam dalam pandangan Muhammadiyah harus bisa menggerakkan umatnya untuk menghadirkan kebaikan yang nyata, dengan indikator berupa kesejahteraan, kedamaian, dan kebahagiaan bagi seluruh makhluk Allah,” pungkas Hamim. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *